LBH Pers: Polisiadi Aktor Utama Kekerasan Jurnalis pada 2020

Ilustrasi - Bentuk protes awak media atau wartawan terkait pembatasan tugas dan kerja jurnalistik. (Foto : Antara)

Acuantoday.com, Jakarta―Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers merilis laporan tahunan tentang iklim kebebasan pers dan konflik ketenagakerjaan di bidang media selama 2020, khususnya selama masa pandemi Covid-19. 

Di dalamnya, termasuk menyoroti kekerasan yang menimpa jurnalis atau pihak lain yang mengancam kebebasan pers. 

Hasilnya, pada 2020 ditemukan data bahwa Kepolisian RI menjadi institusi negara yang dominan melakukan kekerasan terhadap jurnalis dengan kasus terbanyak.

“Institusi yang mestinya hadir untuk menjamin pemenuhan hak asasi manusia dan penegakan hukum ini, justru tampil sebagai aktor utama kekerasan. Dari 117 kasus yang terdata, 76 kasus di antaranya dilakukan oleh aparat kepolisian,” kata Ketua LBH Pers Ade Wahyudi dalam siaran pers, Selasa (12/1). 

Ade menjabarkan, tindakan represif oleh aparat banyak terjadi saat aksi demonstrasi terhadap pengesahan Undang-undang Cipta Kerja pada Oktober 2020.

Selama 2020, tercatat sedikitnya 99 jurnalis mengalami kekerasan, mulai dari berupa penganiayaan, intimidasi, penangkapan, penghapusan data liputan, hingga serangan siber. 

Aksi protes pengesahan Omnibus Law menjadi salah satu faktor meningkatnya serangan terhadap jurnalis, setidaknya terdapat 71 kasus. 

Pelaku lain yang melakukan kekerasan dan pelanggaran pers adalah militer sebanyak dua kasus. 

Sedangkan untuk pelaku anonim atau tidak diketahui menempati posisi kedua yaitu sebanyak 12 kasus. Serangan siber dilakukan bukan hanya secara konvensional. 

Sebab, beberapa pelaku melakukan serangan siber terhadap jurnalis atau perusahaan media dengan identitas anonim tadi.

Ade mengatakan, lembaganya telah menghimpun data dari monitoing pemberitaan media, aduan langsung, hingga konfirmasi korban selama periode 1 Januari hingga 10 Desember 2020.

“Selama periode tersebut menunjukkan angka yang sangat suram bagi kebebasan pers, yakni mencapai 117 kasus, atau naik signifikan sebanyak 32 persen dibandingkan 2019 dengan angka 79 kasus,” ucap Ade. (rwo)

Comments

comments