Diperiksa Terkait Kasus RS Ummi, Wali Kota Bogor: Bukan Kasus Politik

Muhammad Rizieq Shihab (tengah) bersiap menjalani pemeriksaan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Sabtu (12/12/2020)./Foto: Antara

Acuantoday.com, Jakarta―Wali Kota Bogor Bima Arya memenuhi panggilan Bareskrim Polri untuk pemeriksaan terkait kasus penghalangan kerja Satgas Covid-19 Kota Bogor di Rumah Sakit Ummi dengan tersangka Rizieq Shihab dan menantunya Hanif Alatas serta Andi Taat selaku direktur rumah sakit tersebut. 

“Saya menerima undangan untuk pemeriksaan lanjutan kasus HRS (Habib Rizieq Shihab) di rumah sakit Ummi, kalau dua kali kemarin di Bogor, hari ini saya memenuhi panggilan di Bareskrim,” ujar Bima Arya saat ditemui di lobby gedung Bareskrim Polri, Senin (18/1).

Bima mengutarakan, dalam pemeriksaan kali ini, dirinya tidak memiliki persiapan secara khusus. 

Dia bakal menjelaskan detail kronologis soal langkah-langkah dari Satgas Covid-19 sampai melaporkan kasus RS Ummi ke pihak Kepolisian pada medio November 2020 lalu. 

Namun demikian, Bima datang dengan segala dokumen-dokumen yang diperlukan, termasuk landasan aturan mengapa laporan dibuat. 

Bima berpandangan, setiap langkah Satgas memiliki landasan aturannya sehingga mengambil langkah hukum. Sebab, menurutnya, pelaporan kasus yang menyeret Rizieq ini murni karena dugaan pelanggaran protokol kesehatan.

Bima menolak anggapan yang menyebut kasus ini dipolitisir.

“Kami ingin tuntas juga sekaligus ingin menuntaskan kepada publik, biar publik itu clear ini tidak ada urusan politik tidak ada urusan apa-apa, ini murni untuk melaksanakan tugas sebagai kepala Satgas,” tutur Bima.

Awal kasus bermula pada pertengahan November 2020 lalu, saat pihak RS Ummi diduga menutupi kejelasan status tes swab Rizieq yang tengah dirawat. 

Satgas Covid-19 Kota Bogor pada saat itu lantas meminta pihak rumah sakit transparan soal hasil tes swab pentolan FPI itu, tapi tidak didapati kejelasan. 

Kemudian tes usapnya juga dituduh tidak sesuai prosedur, sebab Satgas Covid-19 mendapati penghalangan saat ingin melakukan tes swab langsung terhadap Rizieq. 

Perkara kian bertambah, ketika Rizieq memutuskan untuk pulang perawatan dan diperbolehkan pihak rumah sakit. 

Pasalnya, kepulangannya tanpa diketahui oleh pemerintah setempat dan ditambah kondisi kesehatannya, termasuk hasil tes swabnya pun masih dalam tanda tanya. 

Belakangan diketahui HRS sempat positif Covid-19 tapi pihak RS Ummi tidak menyampaikan ke Satgas Covid-19.

Tiga tersangka dalam kasus ini terjerat pasal berlapis, yakni Pasal 14 Ayat 1 dan 2 UU Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit. 

Hasil dalam lidik, sidik, konstruksi pasal ditambahkan Pasal 216 KUHP, Pasal 14 dan 15 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana. 

Peranan Rizieq sudah jelas, pertama menutupi hasil tes swab dirinya dan pulang tanpa konfirmasi kondisi kesehatan. Kemudian peran Andi Taat diduga menghambat kerja Satuan Tugas Penanganan Covid-19 terkait penanganan kesehatan Rizieq.

Sedangkan Hanif Alatas diduga juga menutupi informasi soal kesehatan mertuanya itu. (rwo)

Comments

comments