Diduga Plagiat, Komisi III Hentikan Uji Kepatutan Calon Hakim Agung Triyono

Acuantoday.com, Jakarta―Komisi III DPR RI menghentikan uji kepatutan atau fit and proper test calon Hakim Agung, Triyono Martanto. Hal ini lantaran makalah yang digunakan Triyono dalam uji kepatutan diduga hasil plagiat.

Triyono memaparkan hasil makalah yang telah dibuatnya berjudul “Eksistensi dan Independensi Pengadilan Pajak dalam Sistem Peradilan di Indonesia. 

Usai memaparkan hasil makalah, anggota Komisi III DPR RI Fraksi PDIP, Ichsan Soelistio menilai Triyono melakukan plagiat dalam makalahnya.

Dugaan plagiat dengan tema tersebut diduga dicomot dari “Mimbar Keadilan Jurnal Ilmu Hukum”, ditulis oleh Rio Bravestha dan Syofyan Hadi, halaman 11 paragraf 2.

“Nah saya melihat di dalam makalah Bapak kemarin ini ada plagiat, Pak,” kata Ichsan.

Ichsan juga mengatakan, plagiat juga ditemukan di paragraf berikutnya di halaman 2, yang mirip sekali, dan hanya diubah satu-dua kata, dari karya  Rio Brapesta dan Sofyan halaman 11 dan 12. 

Triyono kemudian sempat memberikan penjelasan atas dugaan plagiarisme dalam makalahnya. 

Ia mengaku tidak pernah membaca tulisan Rio Bravestha dan Syofyan Hadi.

“Sebenarnya apa yang saya tulis di sini sama dengan yang saya sampaikan di Mahkamah Konstitusi,” kilahnya.

Ia mengatakan, tulisan itu untuk memosisikan legal standing di Mahkamah Konstitusi.

“Jadi kalau misalnya ada kesalahan memang tadi pak, antara eksistensi dan apa, kedudukan itu memang banyak ditulis pak, sampai sekarang pun itu masih menjadi perdebatan di kalangan akademisi,” ungkap Triyono.

Mendapat jawab itu, Ichsan Soelistio mempertegas penyataannya dengan mengatakan apa yang menjadi kesamaan dari kedua artikel itu bukan isi dari pemikirannya.

“Kalau pengertiannya kita bisa mengerti ketua, tetapi kata demi kata paragraf nya itu identik, makanya saya bilang tadi identik,” tegas Ichsan.

Hal itu juga dipertegas oleh Wakil Ketua Komisi III Desmond Mahesa selaku pimpinan rapat yang juga mengatakan isi dari makalah itu sangat identik, yang berarti plagiat.

“Kalau cara berpikirnya tidak ada masalah bagi kami, tapi kalau itu identik berarti bapak plagiat. Kecuali Bapak bisa membantah,” Kata Desmon.

Mendengar pernyataan itu, Triyono Martanto, kembali melontarkan jawabannya yang menyatakan isi dari makalah itu adalah hasil tulisannya sendiri. 

Dimana pada penulisannya dia tidak memperhatikan dengan melihat perbandingan melalui browsing artikel di internet.

“Jadi begini yah pak ya, sebenarnya pada saat penulisan makalah ada beberapa saya yang nulis pak. Jadi dalam penulisan itu memang saya juga tidak melihat, misalkan browsing atau apa pak, terkait dengan itu,” jawabnya.

Sementara, anggota Komisi III Fraksi Golkar DPR, Adies Kadir, memperjelas bahwa makalah itu sangat patut diduga hasil dari plagiat. 

“Nah, berarti itu sudah lebih dahulu pak. Mungkin waktu di MK bapak juga plagiat dari 2017, mungkin. Karena sama semu gitu loh, kami mohon dijelaskan sejelas jelasnya pak. Kalau sampai bapak banyak gelarnya begini plagiat, ya saya ijin pimpinan mungkin bisa di setop saja ini, percuma kita teruskan. Bapak jawab dulu,” tegas Adies Kadir.

Setelah mendengar pemaparan dari Triyono Martanto, yang masih saja terkesan berdalih, dengan menyatakan kalimat-kalimat pada artikel hukum banyak dikutip dari kata-kata dalam undang-undang.

Pimpinan rapat Desmond Mahesa, akhirnya memutuskan untuk menutup rapat karena baginya makalah tersebut patut diduga merupakan hasil plagiat. 

Desmond pun meminta Ichsan membacakan tulisan Triyono yang diduga plagiat serta membandingkannya dengan tulisan Rio Bravestha dan Syofyan Hadi. Desmond kemudian memutuskan untuk tidak melanjutkan fit and proper test calon Hakim Agung terhadap Triyono Martanto.

“Oke kalau demikian patut diduga, oke karena ini patut diduga. Ini tolong rapat saya ambil keputusan tidak dilanjutkan. Tinggal fraksi-fraksi yang memutuskan karena ini patut diduga,” kata Desmond. (rht)

Comments

comments