Status Tanggap Darurat Merapi Diperpanjang

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sleman Joko Supriyanto

Acuantoday.com, YogyakartaKepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman Joko Supriyanto menyatakan, status tanggap darurat Gunung Merapi yang berakhir 31 Januari 2021 diperpanjang hingga akhir Februari. 

Sebab, gunung dengan ketinggian 2.930 mdpl diperbatasan DIY – Jateng itu, hingga saat ini masih bergejolak, memasuki fase erupsi efusif.

“Kami perpanjang sampai akhir Februari,” kata Joko dalam keteranganya, Sabtu (30/1).

Joko mengatakan, selama masa tanggap darurat yang diperpanjang satu bulan itu, masing-masing OPD diminta untuk mengupayakan penanganan terhadap warga pengungsi.

Sehingga, anggaran yang dibutuhkan selama tanggap darurat akan disesuaikan melalui usulan dokumen pelaksanaan anggaran (DPA) di masing-masing OPD. 

Semisal, Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) mengusulkan untuk menambah toilet portable di barak pengungsian maupun perbaikan pada jalur-jalur evakuasi yang masih rusak.

Kemudian, Dinas Komunikasi dan informatika mengusulkan adanya pemasangan WiFi di barak pengungsian.

Sedangkan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana mendirikan tenda sebagai pos aduan perempuan dan anak. 

Selain itu Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan mengupayakan perbaikan kandang ternak komunal yang dipersiapkan sebagai tempat evakuasi ternak warga.

Kemudian Dinas Perhubungan mengupayakan perbaikan lampu penerangan. Baik yang ada di jalur evakuasi maupun di barak pengungsian warga. 

“Anggarannya, masing-masing OPD mengusulkan, kita rapatkan masing-masing OPD untuk DPA, dan berlaku selama satu bulan,” tuturnya.

Sementara itu, sebanyak 10 orang dalam satu keluarga yang mengungsi di Barak Pengungsian Plosokerep Umbulharjo, Cangkringan Sleman, dipulangkan ke rumahnya di Padukuhan Ngrangkah, Sabtu (30/1).

Pengungsi tersebut keluar dari kampungnya saat terjadi erupsi Gunung Merapi, Rabu (27/1), yang mengeluarkan guguran besar lava dan awan panas. 

Padukuhan Ngrangkah Cangkringan berjarak 5-7 kilometer dari puncak Merapi dianggap wilayah aman. Namun karena trauma dengan peristiwa erupsi tahun 2010, mereka mencari perlindungan dan menuju ke pengungsian di Umbulharjo.

Menurut Penewu (Camat) Cangkringan, Suparmono, keluarga tersebut memilih turun dan mengungsi karena khawatir ketika gunung Merapi erupsi besar.

“Saat itu, terjadi awan panas guguran, hingga mencapai 52 kali yang mengarah ke hulu kali Boyong dan Krasak,” ujar Suparmono, Sabtu (30/1). 

Sepuluh orang dalam satu keluarga itu terdiri dari 2 dewasa, 1 bayi, 1 balita, dan 6 anak itu memilih turun dan mengungsi.

Namun, setelah berada di pengungsian, lebih kurang selama tiga hari, satu keluarga itu segera dipulangkan.

Sebab, kata Suparmono, padukuhan Ngrangkah meskipun berjarak sekitar 5-7 kilometer dari puncak Gunung Merapi, tetapi masih cukup aman. 

“Kepulangan satu keluarga pengungsi ini dikordinir oleh Unit Laks Kalurahan,” tambah Suparmono. (chaidir)

Comments

comments