Antisipasi Pandemi Berlanjut, Paris Siapkan Strategi Darurat Olimpiade 2024

Cincin Olimpiade terlihat di depan kantor pusat Komite Olimpiade Internasional saat penyebaran penyakit virus korona (COVID-19) di Lausanne, Swiss, Selasa (26/1/2021)./Foto: Antara

Acuantoday.com, Jakarta―Paris sebagai tuan rumah Olimpiade 2024 mengantisipasi kemungkinan bila pandemi berlanjut dengan membuat strategi rencana darurat.

Hal ini ditegaskan ketua panitia Paris 2024 Tony Estanguet, Selasa (2/2).

Olimpiade Tokyo 2020 ditunda satu tahun dan penyelenggara menghadapi tantangan berat untuk menjadi tuan rumah pesta olahraga sejagat itu Juli dan Agustus tahun ini saat krisis Covid-19 masih berkecamuk.

Estanguet kepada Reuters di Menara Eiffel, mengatakan, Paris 2024 sedang mempersiapkan segala kemungkinan.

“Ketika Anda menyelenggarakan acara seperti ini, Anda mencoba untuk mengantisipasi, tetapi tidak ada yang bisa membayangkan bahwa Covid-19 akan membuat kekacauan dalam hidup kita. Kita dapat memprediksi banyak hal, tetapi bukan ini,” katanya.

Hal yang menarik, diakuinya, adalah bagaimana bereaksi terhadap peristiwa yang tidak terduga.
Sejak awal tahun lalu, lanjutnya, panitia harus mengatur ulang dan mengerjakan konsep baru, seperti tempat pertandingan untuk melihat bagaimana dapat beradaptasi dengan konteks baru.

“Pada akhirnya dalam beberapa bulan kami berhasil mengajukan proyek yang masih ambisius dan menghasilkan penghematan. Itulah pola pikir kami. Tidak ada rencana resmi B tetapi kami mengidentifikasi risiko dan solusinya. Dan kami akan mengerjakan ini sampai tuntas karena risiko terus berkembang.”

Ditanya apakah penyelenggara akan siap menjadi tuan rumah Olimpiade pada 2024 jika situasinya mirip dengan tahun ini, Estanguet mengatakan: “Ada solusi.”

Dengan penundaan Olimpiade 2020 satu tahun, ada kekhawatiran bahwa pembagian informasi antara Tokyo dan Paris akan terpengaruh.

Estanguet, bagaimanapun, bersikeras bahwa kedua komite penyelenggara telah melakukan kontak, memungkinkan Prancis memetik pelajaran berharga dari rekan-rekan Jepang mereka dalam hal manajemen krisis Covid-19.

“Sejak 2018, kami telah bertukar tentang keamanan, transportasi, tiket, relawan – kami telah berbagi informasi selama tiga tahun sekarang dan kami telah mendapatkan manfaat dari semua tindakan yang mereka buat tahun lalu,” jelasnya.

“Meski Olimpiade belum terjadi, kami sudah belajar banyak dari Tokyo.”

Persiapan untuk acara olahraga dapat sangat terganggu oleh pembatasan COVID-19, seperti yang ditemukan oleh para pemain tenis baru-baru ini dengan menjalani karantina ketat selama dua minggu menjelang turnamen di Australia.

Padahal menurut Estanguet, olimpiade adalah impian seorang atlet dan para peserta akan siap beradaptasi. (mad)

Comments

comments