Target Diturunkan, BKPM Sebut Realisasi Investasi Terlampaui

Proyek pengerjaan jalur kereta api cepat Jakarta-Bandung di sisi ruas jalan Tol Cikampek. /Foto: Acuantoday.com (Ahmadi Supriyanto)

Acuantoday.com, Jakarta―Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Bahlil Lahadalia menyebut, realisasi investasi pada 2020 mencapai Rp826 triliun atau 101,1 persen dari target realisasi investasi sebesar Rp817 triliun, usai dilakukan revisi dari target awal Rp886 triliun karena adanya pandemi Covid-19.

“Alhamdulillah, dalam tahun berjalan, realisasi investasi kita mencapai Rp826 triliun atau naik 101,1 persen,” kata Bahlil dalam keterangannya, di Jakarta.

Bahlil memaparkan, yang terpenting dari capaian tersebut adalah terungkapnya fakta-fakta baru terkait investasi di Indonesia yang sesuai dengan Key Performance Indicator (KPI) BKPM.

Menurut Bahlil, dalam lima tahun terakhir, baru pada 2020 realisasi investasi di Jawa dan luar Pulau Jawa mulai berimbang, di mana investasi di Pulau Jawa mencapai Rp417,5 triliun dengan 54.994 proyek, sedangkan di Jawa mencapai Rp408,8 triliun dengan 93.355 proyek.

Selain itu, sepanjang 2020, di mana pandemi COVID-19 terjadi di hampir seluruh negara di dunia, namun Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia hanya turun tidak lebih dari 10 persen.

“Dan ini juga menunjukkan bahwa di era pandemi, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) kita lebih besar. Dan sangat luar biasa sekali dalam memberikan kontribusi investasinya dibandingkan PMA,” ujar Bahlil.

Diketahui, realisasi PMA pada 2020 mencapai Rp412,8 triliun atau berkontribusi 49,9 persen dari keseluruhan investasi. Sedangkan realisasi PMDN mencapai Rp413,4 triliun atau mencapai 50,1 persen.

Adapun negara-negara yang menanamkan investasinya di tanah air paling besar adalah Singapura yang mencapai 9,8 miliar dolar AS, diikuti Tiongkok sebesar 4,8 miliar dolar AS, Hongkong 3,5 miliar dolar AS, Jepang 2,6 miliar dolar AS, dan Korea Selatan 1,8 miliar dolar AS.

“Yang menarik itu Belanda. Belanda masuk menjadi investor terbesar nomor enam pada 2020, di mana sebelumnya tidak ada dalam sepuluh besar,” ujar Bahlil.

Untuk itu, Bahlil menambahkan, RI akan melakukan penetrasi pasar ke Belanda untuk menjemput lebih banyak investor.

“Kami sempat berfikir, kenapa Belanda bisa masuk nomor enam. Ternyata, begitu Inggris keluar dari Uni Eropa atau Brexit, Belanda dijadikan hub, jadi banyak kantor-kantor perwakilan di Belanda. Oleh karena itu kita perlu melakukan penetrasi ke sana,” pungkas Bahlil. (mad)

Comments

comments