Warganet Ramai-ramai Protes Pemotongan Insentif Nakes

Tenaga kesehatan (nakes) tampak kelelahan disela-sela memberikan pelayanan kesehatan kepada para pasien yang telah terinfeksi virus corona. /Foto: ist

Acuantoday.com, Semarang―Pemotongan insentif bagi tenaga kesehatan (nakes) yang menangani Covid-19, ramai diperbincangkan publik.

Dijagad twitter, tagar #nakes bahkan menjadi trending, Kamis (4/2) pagi ini. Warganet umumnya menyesalkan kebijakan pemerintah memotong insentif nakes yang sudah menjadi garda terdepan menghadapi pandemi.

Ciutan @blogdokter, misalnya, mendapat respon cukup banyak dari warganet. “Sah, insentif tenaga kesehatan yang menangani Covid-19 dipotong 50%.”

Cuitan ini, umpamanya, mendapat respon dari @Antho***n, “Kasian sm temen2 nakes yg menangani covid di rsud wamena, mrk itu pegawai honorer. Insentif dipotong pusat, gaji dipotong pemda.”

Ada yang memberi semangat, seperti ditulis akun @wintersta****o, “Semangat ya dok! Saya tahu gimana beratnya dokter dan perawat nanganin pasien cov, karna saya juga lagi perawatan di rs.”

Bukan hanya masyarakat biasa, tokoh-tokoh yang dikenal publik juga ikut bersuara.

Dipo alam melalui akunnya @dipoalam49 mengatakan, “Maaf, saya bukan dokter atau wakili IDI, atau wakili perawat…tapi janganlah potong insentif Nakes kita yang sedang bekerja di garis depan lawan Covid19…sitaan2 dari para koruptor olh negara, apa bisa cepat dicairkan utk tutup kekurangan@KemenkesRI?

Pegiat media sosial yang cukup aktif di twitter, Muhammad Said Didu mengatakan, hal serupa.

“Kalau pimpinan BPIP ingin berikan contoh mengamalkan Pancasila, maka saya yakin mereka yg minta gajinya (yg inronya digajih lbh Rp100 juga perbulan) yg dipotong dan bukan gaji nakes yg jelas2 bekerja yg dipotong.”

Secara tegas, Fadli Zon mengatakan, “Harusnya justru insentif nakes dinaikkan bukan malah ada pikiran mau dipotong. Mereka pahlawan kita masa kini.”

Seperti diberitakan, melalui Surat Menteri Keuangan Nomor S-65/MK.02/2021 tanggal 1 Februari 2021, diputuskan besaran baru untuk insentif nakes.

  • Dokter spesialis sebesar Rp7.500.000 per orang per bulan
  • Peserta PPDS sebesar Rp6.250.000 per orang per bulan
  • Dokter umum dan gigi Rp5.000.000 per orang per bulan
  • Bidan dan perawat Rp3.750.000 per orang per bulan
  • Tenaga kesehatan lainnya sebesar Rp2.500.000 per orang per bulan
  • Santunan kematian per orang sebesar Rp300.000.000.

Besaran ini mengalami penurunan 50 persen bila dibandingkan dengan insentif yang diberikan pada tahun 2020.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/278/2020 tanggal 27 April 2020 menegapkan insentif nakes sebagai berikut:

  • Dokter spesialis sebesar Rp15.500.000 per orang per bulan
  • Dokter umum dan gigi Rp10.000.000 per orang per bulan
  • Bidan dan perawat Rp7.500.000 per orang per bulan
  • Tenaga kesehatan lainnya sebesar Rp5.000.000 per orang per bulan
  • Santunan kematian per orang sebesar Rp300.000.000.***mad

Comments

comments