Ganjar Sambangi eks Napiter Peternak Lele, Ini Cerita Inspiratif Yusuf

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat mengunjungi mantan napi terorisme, Yusuf./Foto: Acuantoday.com (Humas Jatengprov)

Acuantoday.com, Semarang―Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo melakukan gowes pagi di daerah Semarang Barat untuk mengunjungi salah satu mantan napi terorisme, Machmudi Hariono alias Yusuf, di rumah, Kamis (4/3) pagi.

Mengetahui ada orang nomor satu di Jawa Tengah yang akan berkunjung, Yusuf nampak sibuk menyiapkan rumahnya didampingi beberapa warga.

Mantan narapidana terorisme itu begitu cekatan menata kursi serta membersihkan kolam-kolam lele yang ada di depan rumahnya.

Tepat pukul 07.15 WIB Ganjar tiba di lokasi itu. Sambil gowes pagi, Ganjar menyempatkan mampir ke kediaman Yusuf yang juga Ketua Yayasan Persadani, yayasan yang menaungi eks napiter di Jawa Tengah.

Di tempat tersebut, Ganjar langsung ngobrol gayeng bersama Yusuf terkait proses reintegrasi sosial yang dilakukannya.

Kepada Ganjar, mantan anak buah Noordin M Top yang pernah dihukum 10 tahun itu mengatakan, ternak lele adalah cara untuk memuluskan proses reintegrasi sosial itu.
Dengan cara itu, Yusuf dan beberapa rekan eks napiter di Semarang bisa dengan mudah diterima oleh masyarakat.

“Secara kejadian, saya dulu ditangkap di daerah sekitar sini. Saat itu masyarakat juga gempar, sehingga hari ini saya kembali ke sini dan menjadi warga sini sekaligus bertanggungjawab memulihkan rasa was-was di tengah masyarakat. Ini sebagai tanggung jawab moral saya pribadi,” ujar Yusuf.

Yusuf yang ditangkap karena menyembunyikan bahan peledak hampir 1 ton itu mengatakan, proses reintegrasi sosial dengan cara ternak lele ternyata efektif.

Dengan cara itu, ia bisa diterima masyarakat dan bahkan banyak yang menjadikannya sebagai rujukan setiap ada kejadian terorisme.

“Saya juga selalu mengingatkan agar masyarakat tidak terpengaruh pada ajakan-ajakan yang bersifat radikalisme dan terorisme. Apalagi, ajaran itu sekarang banyak di media sosial. Harus ada langkah preventif agar terhindar dari paham-paham radikal itu,” jelasnya.

Tak jarang lanjut Yusuf, masyarakat bertanya tentang pengalamannya menjadi bagian dari gerakan terorisme dan upaya untuk mencegahnya. Melalui obrolan santai, ia menjelaskan dengan pelan dan narasi yang mudah diterima masyarakat.

“Kalau ketemu di warung, sambil lesehan ada yang tanya soal itu, saya jelaskan pelan-pelan. Intinya jangan sampai masyarakat terbawa pada image dan praduga mereka, saya berikan titik terang untuk memahami,” katanya.

Ia meminta masyarakat berhati-hati dengan masifnya penyebaran paham radikal dan terorisme itu. Sebab, pengaruh paham itu sekarang sangat mudah disebarkan melalui medsos.

Ganjar mengacungi jempol langkah reintegrasi sosial yang dilakukan Yusuf dan eks napiter lain di Jawa Tengah. Menurutnya, mereka bisa menjadi rujukan sekaligus duta perdamaian di tempatnya masing-masing.

“Ini keren ya, apalagi caranya bagus, ada kreatifitas yang dibangun. Di Genuk ada ternak lele, di sini juga sama, di Solo ada warung soto. Dengan cara-cara itu, maka penerimaan masyarakat akan jadi baik,” ucapnya.

Para eks napiter ini, lanjut Ganjar, bisa menjadi rujukan atau duta perdamaian untuk masyarakat. Sambil ngobrol, mereka bisa menjelaskan tentang bahaya paham radikalisme dan terorisme.
“Sambil guyon mereka bisa menjelaskan, saat ada masyarakat tanya tentang kejadian terorisme yang masih terjadi,” pungkasnya. (alvin)

Comments

comments