Modifikasi Cuaca Tak Cegah Hujan Ekstem Dini Hari di Jakarta

Ilustrasi-suasana mendung menjalang hujan./Foto: Istimewa

Acuantoday.com, Jakarta―Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menyebut teknologi modifikasi cuaca (TMC) tidak dapat mencegah proses cold pool penyebab hujan persisten yang berlangsung ekstrem pada dinihari di Jakarta.

“Tidak bisa dan bahkan berbahaya,” ujar Peneliti Pusat Sains dan Teknologi Antariksa (PSTA) LAPAN Erma Yulihastin dalam keterangannya di Jakarta, Senin (8/3).

Erma meninjau banjir besar yang terjadi di Jabodetabek pada 20 Februari 2021, dipicu hujan ekstrem (intensitas hingga 226 mm) yang terjadi pada dini hari.

Mekanisme yang menyebabkan hujan dini hari ekstrem ini berkaitan dengan fenomena Cross-Equatorial Northerly Surge (CENS), yaitu berupa penguatan angin permukaan dari utara yang memanjang dari Selat Karimata hingga utara Jakarta.

Pada kasus yang terjadi 20 Februari tersebut, fenomena CENS memicu hujan ekstrem melalui dua cara.

Pertama, menggeser sel konveksi yang terbentuk di tengah laut Jawa pada tengah malam menuju ke kawasan pesisir Jakarta pada dinihari melalui proses propagasi hujan.

Kedua, menimbulkan konvergensi dengan angin baratan dari Selat Sunda sehingga konveksi darat yang terjadi di Lampung pada sore hari sebelumnya, mengalami perpanjangan ke arah Selat Sunda dan menuju Jakarta pada dini hari.

Erma menjelaskan, berdasarkan pantauan terhadap data awan, hujan ekstrem dini hari tersebut tidak dibangkitkan oleh awan skala meso yang telah terbentuk sebelumnya di atas darat, melainkan oleh percepatan pertumbuhan awan yang terjadi di kawasan pesisir pada tengah malam-dinihari, seiring dengan kejadian hujan yang dimulai sejak tengah malam di kawasan Jakarta.

Artinya, terdapat mekanisme yang mempercepat proses induksi pembentukan awan-awan baru dari hujan yang telah terjadi sebelumnya, sehingga menghasilkan awan skala meso yang meliputi Jawa bagian barat, yang selanjutnya proses ini dinamakan dengan cold pool.

Alasan Erma terkait hal tersebut yang pertama, proses di atmosfer sangat acak dan menganut hukum chaos.

Gangguan kecil di atmosfer pada suatu lokasi dapat menyebabkan perubahan fatal kondisi atmosfer di lokasi lain, karena atmosfer saling terhubung melalui sirkulasi yang bersifat regional bahkan global.

Kedua, percepatan hujan dari awan konvektif justru dapat membangkitkan cold pool yang gerakannya acak ke segala arah dan dapat memicu aktivitas konvektif yang bersifat lebih meso atau meluas.

Sementara, operasi TMC yang dilakukan pada saat angin mengalami penguatan atau konvergensi dapat memicu pembentukan rainband (pita hujan) yang terjadi lebih cepat atau bahkan dapat memicu pembentukan squall line (garis badai) yang efeknya dapat menjangkau wilayah yang jauh hingga ratusan kilometer dari lokasi TMC.

Pada 21-22 Februari, pelemahan konveksi di barat Indonesia dipengaruhi oleh vorteks Borneo.

Pada 23-26 Februari, siklon tropis secara dominan mengontrol konveksi skala meso yang tidak menimbulkan konvergensi skala luas dan persisten di darat melainkan di laut.

Pertumbuhan awan di sekitar Lampung, Selat Sunda, dan Jakarta pada periode ini lebih banyak dikontrol oleh sistem skala besar yang berasal dari aktivitas siklon tropis.

Dengan demikian, operasi TMC yang dilakukan selama periode tersebut menjadi tidak efektif.

“Melihat hal tersebut, penting dilakukan kajian kembali terkait penggunaan TMC. Utamanya dikarenakan belum adanya bukti saintifik bahwa teknologi tersebut aman dan efektif,” ujar Erma.

Selain itu, kata dia, dampak terhadap lingkungan belum diketahui dengan jelas, sehingga sebaiknya perlu dilakukan verifikasi komposisi kimia air hujan hasil operasi TMC.

“Hal paling penting untuk segera dilakukan adalah membangun kerja sama penelitian bencana hidrometeorologis,” katanya.

Melalui kerja sama tersebut, katanya, informasi dan data-data penting yang diperlukan untuk mitigasi bencana hidrometeorologis akan lebih mudah didapat, sehingga keputusan perlu atau tidaknya TMC dilakukan melalui pembahasan bersama-sama. (adi)

Comments

comments