Keraton Yogyakarta Gelar Labuhan Jumenengan di Parangkusumo dan Merapi

Prosesi Labuhan Tinggalan Jumenengan Dalem di Pantai Parangkusumo Bantul./Foto: Acuantoday.com (chaidir)

Acuantoday.com, Yogyakarta—Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menggelar Labuhan Tinggalan Jumenengan Dalem di Pantai Parangkusumo, Bantul, Minggu (14/3).

Sedangkan upacara labuhan Merapi, Sleman, akan digelar pada Senin (15/3).

Labuhan dilaksanakan dalam rangka memperingati penobatan atau kebaikan tahta Sri Sultan Hamengku Buwono X ke-32.

Untuk kegiatan di Pantai Parangkusumo, upacara labuhan diawali dengan penyerahan ubarampe dari Kraton menuju ke Kapanewon Kretek, Bantul.

Ubarampe berupa seperangkat pakaian yang pernah digunakan Sri Sultan, seperangkat pakaian untuk laki-laki dan perempuan, potongan kuku, potongan rambut Sri Sultan, dan lain-lain.

Setelah proses serah terima, ubarampe tersebut kemudian dibawa ke Cepuri Pantai Parangkusumo.

Ada serangkaian prosesi yang dilewati, sebelum akhirnya ubarampe tersebut dilarung ke Pantai Parangkusumo.

Carik Tepas Nduwara Pura Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Wijaya Pamungkas mengatakan labuhan merupakan bentuk manifestasi rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Rasa syukur karena Ngarsa Dalem sudah diberi kesehatan selama memangku jabatan sebagai Sri Sultan Yogyakarta.

“Selama 32 tahun, Ngarsa Dalem sudah diberi kesehatan. Labuhan ini juga sebagai sarana, dengan harapan Allah memberikan sesuatu yang positif, apalagi saat ini masih dalam kondisi pandemi,” katanya, Minggu (14/3).

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul, Nugroho menambahkan labuhan merupakan kegiatan tahunan yang rutin diadakan.

Namun dengan adanya pandemi Covid-19, maka kegiatan labuhan tidak dilaksanakan seperti biasa.

“Karena masih dalam pandemi Covid-19, maka labuhan digelar tetap dengan mematuhi protokol kesehatan. Para abdi dalem tetap memakai masker selama prosesi,” tambahnya.

Meski berlangsung singkat, prosesi labuhan rupanya menarik minat wisatawan Pantai Parangkusumo. Para wisatawan justru turut mengikuti prosesi ritual di doa di Cepuri Parangkusumo dan ikut mengarak ubarampe ke laut.

Sedangkan prosesi tahunan, tradisi labuhan Merapi digelar pada Senin (15/3).

Peralatan atau ubarampe prosesi labuhan Merapi diserahkan pihak Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat kepada Juru Kunci Gunung Merapi, Mas Wedana Suraksohargo Asihono atau Mas Asih, Minggu (14/3).

Serah terima ubarampe dilakukan oleh para abdi dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat ke Panewu Kapanewon Depok, Minggu pagi pukul 08.00 WIB.

Setelah upacara serah terima digelar, ubarampe dibawa ke Kapanewon Cangkringan. Serah terima dilakukan antara Panewu Depok kepada Panewu Cangkringan pukul 09.30 WIB.

Usai prosesi penerimaan, ubarampe diserahkan kepada juru kunci Gunung Merapi Ki Asih untuk dibawa ke Pendopo Kinahrejo, Umbulharjo.

Ubarampe disemayamkan di Pendopo Petilasan Mbah Maridjan di Dusun Kinahrejo selama satu malam. Pada malam harinya digelar kenduri, tahlil dan doa-doa.

Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Sleman Aji Wulantara mengatakan labuhan Merapi tahun ini tetap diadakan secara sederhana.

Susunan kegiatan yang digelar hanya prosesi inti. Sama seperti tahun lalu, agenda rutin tiap tanggal 30 Rajab kalender Jawa ini dilaksanakan dengan aturan protokol kesehatan, mengingat pandemi Covid-19 belum usai.

Terlebih saat ini masih berlangsung Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro.

“Acara kesenian dan hiburan termasuk pagelaran wayang yang biasa dihelat pada malam hari kedua, ditiadakan,” kata Aji, Minggu (14/3).

Labuhan ini digelar untuk memperingati Tingalan Jumenengan Dalem atau ulang tahun ke-32 kenaikan tahta Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Pada Senin (15/3) sekitar pukul 06.00 WIB, ubarampe dibawa ke Sri Manganti untuk dilakukan upacara labuhan. Dikarenakan situasi pandemi, peserta yang naik ke Alas Bedengan dibatasi hanya berjumlah 30 orang.

“Peserta labuhan dibatasi. Mereka yang ke Sri Manganti atau Alas Bedengan seluruhnya berasal dari abdi dalem kraton dan para pendamping juru kunci,” kata Aji.

Kepala Bidang Dokumentasi, Sarana, dan Prasarana Disbud Sleman Wasita mengatakan, ketika kondisi normal jumlah warga yang mengikuti prosesi labuhan bisa mencapai 2.000 orang.

“Kami tidak membatasi jumlah pengunjung. Warga boleh datang tapi hanya sampai lokasi Joglo Kinahrejo,” katanya.

Selama acara berlangsung, aparat keamanan dan tim SAR akan ikut mendampingi.

“Pengunjung yang akan ngalap berkah diminta menunggu di Pendopo Kinahrejo. Kegiatan secara keseluruhan menerapkan protokol kesehatan,” katanya.

Sementara Juru Kunci Gunung Merapi Ki Asih berharap agar prosesi labuhan Merapi tahun ini berjalan lancar mengingat kondisi Merapi saat ini masih berstatus Siaga.

“Ya berdoa agar semua yang ikut prosesi labuhan bisa diberi keselamatan. Patuhi protokol kesehatan,” harapnya. (chaidir)

Comments

comments