67 Aparat TNI AD akan Jalani Sidang Perusakan Mapolsek Ciracas

Komandan Pusat Polisi Militer TNI Angkatan (Puspomad) Letjen TNI Dodik Widjanarko/Antara

Acuantoday.com, Jakarta- Perkembangan penyidikan kasus perusakan Mapolsek Ciracas, Jakarta Timur, telah sampai pada penetapan sejumlah tersangka. Semua yang terlibat merupakan prajurit TNI AD dan mereka bersiap menghadapi sidang peradilan militer.

Komandan Pusat Polisi Militer Angkatan Darat (Danpuspomad) Letjen Dodik Wijanarko menyatkaan, sebanyak 67 personel TNI AD dari 25 satuan berbeda menjadi tersangka dan kini tengah ditahan.

Penetapan tersangka ini berdasar hasil pengumpulan keterangan sejumlah saksi dan berbagai macam alat bukti dalam perkara.

“Berdasarkan keterangan para saksi dan alat bukti yang ada, sebanyak 67 orang yang terdiri dari 25 satuan, telah ditetapkan statusnya sebagai tersangka dan dilakukan penahanan,” kata Dodik dalam siaran pers virtual di Aula Gatot Subroto, Puspomad, Jakarta, Kamis (12/11).

Dodik menjabarkan proses penyidikan sejauh ini sudah memeriksa sekira 111 orang saksi, yang terdiri dari dua matra TNI hingga warga sipil. Di antaranya TNI AD sebanyak 52 orang saksi, TNI AL sebanyak 7 orang saksi, Polri sebanyak 2 orang saksi, dan masyarakat umum 50 orang saksi.

Dodik menegaskan, beberapa tersangka siap menjalani proses hukum di peradilan militer, menyusul 14 berkas perkara dari 21 berkas yang ada dianggap sudah rampung dan dilimpahkan ke Oditur Militer II-07 Jakarta.

Kendati begitu, jumlah tersangka bisa saja bertambah, selama di dalam proses persidangan ditemukan bukti dan fakta baru.

Perusakan Mapolsek Ciracas yang terjadi pada Sabtu (29/8) lalu ini berawal dari berita bohong yang disampaikan Prada MI. Saat itu, ia mengalami kecelakaan lalu lintas tunggal, tetapi malah mengaku dikeroyok saat bercerita kepada sejawatnya.

Hal tersebut kemudian memicu penyerangan Polsek Ciracas dan pengeroyokan beberapa polisi di dalamnya.

Dari hasil penyidikan diketahui, motif Prada MI sengaja menyebarkan kabar hoaks, karena dilandasi perasaan takut diproses hukum, mengingat saat kecelakaan tidak memiliki SIM C dan tidak membawa STNK. Terlebih, takut dianggap mabuk saat mengalami insiden kecelakaan.(rwo)

Comments

comments