Siklon Tropis Narelle yang saat ini berada di kawasan Australia Barat terus menunjukkan intensitas tinggi dan memberikan dampak tidak langsung terhadap kondisi cuaca di Indonesia.
Berdasarkan pembaruan terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), siklon ini terpantau menyusuri wilayah pesisir North West Cape, Australia Barat, pada Jumat (27/3) pagi waktu setempat. Posisi pusat badai berada sekitar 22 kilometer di barat laut Exmouth.
Kategori Tinggi, Angin Capai 260 Km/Jam
Biro Meteorologi Australia (BoM) menetapkan Narelle sebagai siklon kategori 4. Kecepatan angin di sekitar pusat badai mencapai 185 kilometer per jam dengan hembusan hingga 260 kilometer per jam, yang berpotensi menimbulkan kerusakan signifikan di wilayah terdampak langsung.
Sejumlah wilayah yang masuk dalam zona peringatan antara lain Karratha, Onslow, Exmouth hingga Geraldton, serta wilayah pedalaman Pilbara.
Terbentuk Sejak Pertengahan Maret

Siklon Tropis Narelle terbentuk dari Bibit Siklon Tropis 96P yang mulai berkembang pada pertengahan Maret 2026. Sistem ini resmi menjadi siklon tropis pada 17 Maret 2026 dan terus mengalami penguatan dalam beberapa hari berikutnya.
Dalam skala global, Narelle bahkan tercatat sebagai salah satu siklon terkuat di tahun 2026 dengan tekanan minimum mencapai sekitar 925 hPa.
Dampak ke Indonesia: Hujan Lebat dan Gelombang Tinggi
Meski pusat badai berada di luar wilayah Indonesia, BMKG menegaskan bahwa dampaknya tetap dirasakan secara tidak langsung, terutama dalam bentuk peningkatan curah hujan dan gelombang laut.
Sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat meliputi:
- Banten
- DKI Jakarta
- Jawa Barat
- Jawa Tengah
- DI Yogyakarta
- Jawa Timur
Selain itu, gelombang laut dengan ketinggian hingga 2,5 meter diperkirakan terjadi di perairan selatan Jawa hingga Nusa Tenggara, serta Samudra Hindia selatan Indonesia.
Imbauan Kewaspadaan
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, termasuk hujan lebat yang dapat disertai angin kencang dan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor.
Sementara itu, aktivitas pelayaran dan nelayan di perairan selatan Indonesia juga diminta berhati-hati terhadap peningkatan tinggi gelombang dalam beberapa hari ke depan.
Hingga Jumat malam (27/3), siklon diperkirakan masih memberikan pengaruh terhadap cuaca Indonesia dalam 24 jam ke depan, meskipun pusat badai terus bergerak menjauh ke arah barat daya Australia.
