ADB: Konsumsi Masih Rendah Akibat PSBB

Kondisi perniagaan di Hypermart Pejaten Village Jakarta Selatan pada satu hari jelang PSBB jilid II. Tak terjadi laku panic buying. Foto: Rohman Wibowo (Acuantoday.com)

Acuantoday.com, Jakarta – Asian Development Bank (ADB) memprediksi ekonomi Indonesia masih mengalami kontraksi sebesar satu persen. Salah satu penyebab rendahnya pertumbuhan karena  konsumsi yang menurun pada paruh pertama tahun 2020, seiring pemotongan belanja oleh rumah tangga dan penundaan investasi oleh dunia usaha.

“Belanja rumah tangga masih akan rendah dalam waktu dekat mengingat adanya pembatasan sosial yang dilaksanakan untuk mengendalikan penyebaran virus,” demikian disebutkan ADB dalam ADB Outlook 2020. 

Menurut ADB, yang mempertahankan prediksinya terhadap ekonomi Indonesia sebesar satu persenu merupakan pertama kalinya terjadi sejak krisis keuangan tahun 1997-1998.

ADB juga menyebut, lemahnya permintaan domestik menyebabkan perkiraan inflasi Indonesia untuk tahun ini sebesar dua persen atau turun dari prediksi ADB pada April lalu yaitu tiga persen.

Kontraksi, sebut ADB, juga disebabkan karena permintaan terhadap ekspor Indonesia yang ikut merosot seiring diberlakukannya karantina wilayah di seluruh dunia.

Kegiatan perdagangan dan investasi pun akan rendah karena permintaan global dan domestik masih tetap lemah pada 2020.

Untuk impor barang modal akan merosot lebih tajam dibanding kontraksi pendapatan dari pariwisata dan ekspor komoditas sehingga defisit transaksi berjalan diperkirakan turun setara 1,5 persen PDB.

Meski demikian, ADB memproyeksikan pemulihan terjadi secara cepat seiring permintaan domestik yang mampu mendongkrak indeks manajer pembelian bidang manufaktur hingga melampaui ambang batas 50 pada Agustus.

Oleh sebab itu, dalam publikasi ekonomi tahunan ADB Outlook 2020 yang baru dirilis tersebut, turut mempertahankan prediksinya untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan.

ADB memprediksikan, perekonomian Indonesia akan naik kembali ke tingkat pertumbuhan mencapai 5,3 persen pada 2021 setelah tahun ini terkontraksi 1 persen. 

Pemulihan ekonomi Indonesia tahun depan akan didukung oleh belanja rumah tangga dan perekonomian global yang membaik sehingga meningkatkan investasi.

Pulihnya belanja rumah tangga dan dunia usaha pada 2021 tersebut menyebabkan inflasi diperkirakan naik ke level 2,8 persen. (ahm)

Comments

comments