Akhir Pekan, Selandia Baru Buka Perbatasan untuk Pelancong Australia

Seorang warga duduk di halte bus di sebelah pedoman keselamatan, yang dipasang sebagai tindakan pencegahan wabah COVID-19, di Auckland, Selandia Baru, (31/8/2020)./Foto: Antara (Reuters)

Acuantoday.com, Jakarta―Selandia Baru bakal membuka perbatasannya untuk pelancong Australia mulai akhir pekan.

Demikian, penyiar televisi Selandia Baru 1NEWS melaporkan Selasa (6/3) tanpa menyebut sumber informasi itu.

Laporan itu muncul ketika Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern dijadwalkan mengumumkan tanggal perjalanan bebas karantina dengan Australia pada Selasa malam, setelah menghadapi tekanan yang meningkat dari kalangan bisnis untuk membuka perbatasan.

Apa yang disebut “gelembung perjalanan” akan membatasi pelancong dari daerah tertentu ketika terjadi wabah di Australia dan diperkirakan berjalan berdasarkan situasi masing-masing negara bagian, kata penyiar itu.

Kunjungan turis Australia selama musim ski dan liburan sekolah akan “sangat berarti” bagi industri-industri yang sedang berada dalam kesulitan di Selandia Baru, Wakil Perdana Menteri Grant Robertson mengatakan selama acara sarapan di 1News.

Namun, Robertson tidak memberikan petunjuk kapan perbatasan akan dibuka.

Baik Australia maupun Selandia Baru telah mengelola krisis Covid-19 lebih berhasil daripada kebanyakan negara maju lainnya setelah sangat dini menutup perbatasan internasional mereka untuk nonwarga negara dan penduduk tetap selama pandemi.

Sebagian besar negara bagian Australia telah membuka perbatasan mereka ke Selandia Baru sejak Oktober lalu, tapi Selandia Baru selama ini menunda mengambil langkah serupa karena wabah sporadis di beberapa kota di Australia.

Sementara itu, surat kabar The Australian melaporkan pada Selasa –dengan mengutip sumber pemerintah dan industri– bahwa perjalanan bebas karantina antarnegara dapat dimulai pada 12 atau 19 April.

Maskapai penerbangan telah memulai pemesanan dengan “yang tanggal 19 bisa dipastikan”, kata kepala pariwisata Kamar Dagang dan Industri Australia John Hart seperti dikutip dalam laporan itu.

Kementerian luar negeri Australia belum menanggapi permintaan komentar. (ahm)

Comments

comments