Anies Tarik “Rem Darurat”, Pedagang Pasar Tradisional Menjerit

Mujiyati (kiri), pedagang di pasar tradisional Kramat Jati, Jakarta Timur, satu di antara pedagang yang mengeluhkan dampak ekonomi dari kebijakan PSBB./Foto: Acuantoday.com (Rohman Wibodo)

Acuantoday.com, Jakarta – Sejak Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengumumkan bakal menerapkan kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Jilid II, gelombang protes dan keluhan mengalir deras ke Medan Merdeka Selatan. Mulai dari menteri, DPR, gubernur, wali kota, pengusaha, pebisnis kuliner, ojol hingga pedagang kecil, menyuarakan hal yang sama.

Keputusan Anies yang dianggap mendadak dengan menarik “rem darurat” otomatis memengaruhi sektor perekonomian. Geliat ekonomi di pasar tradisional di Jakarta, misalnya, pedagang mesti dihadapkan lagi dengan kondisi pelik pasar yang sepi pembeli.

Jam operasional kemungkinan besar dibatasi lagi seperti PSBB ketat di periode April hingga awal Juni. Aturan itu memukul para pedagang. Omzet mereka secara otomatis menukik tajam.

Seperti dialami Mulyadi (47), pedagang kosmetik di pasar Kramat Jati, Jakarta Timur ini merasakan betul bagaimana omzetnya turun drastis ketika PSBB dimulai. Ketika normal sebelum pandemi virus corona, omzet tokonya bisa mencapai Rp2 juta per hari.

“Sekarang, anjlok 80 persen sejak pandemi dan PSBB. Pembelinya pada gak ada di sini (pasar). Hari libur sepi. Hari-hari biasa apa lagi,” ujarnya kepada wartawan Acuantoday.com, Sabtu (12/9).

Kendati begitu, ia mengaku, omzetnya sempat bangkit perlahan sejak pelonggaran PSBB atau di saat PSBB transisi pada 5 Juni lalu. Omzet membaik, penurunan bisa dikecilkan menjadi hanya 50 persen. Namun, ketika penjualan berangsur membaik, kebijakan PSBB total yang mulai jalan pekan depan menjadi momok lagi bagi Mulyadi.

“Omzet sekarang aja belum nutup buat keperluan. Dari bayar sewa toko 30 juta per tahun, gaji karyawan dan belanja barang,” keluhnya.

Getir yang sama dirasa pula oleh Mujiyati. Beban hidup lebih terasa berat, sebab dirinya hanya seorang perantauan dari Ponorogo, Jawa Timur. Sudah 5 tahun, ia mengadu nasib di ibu kota sebagai pedagang ayam potong di pasar tradisional terbesar di timur Jakarta itu.

Sejak pandemi virus corona menerpa, cuan yang ia bawa pulang melorot setengahnya. “Biasanya potong ayam bisa 100 ekor per hari. Ya tapi sekarang dapat 50 ekor aja udah alhamdulillah,” tuturnya.

Kendati dapat omzet Rp1,5 juta per hari, uang itu tak sepenuhnya masuk kantong. Ia harus membayar lagi sewa rumah, membiayai sekolah anak hingga bayar jasa potong.

“Gak bisa nabung sekarang . Buat makan aja udah bagus. Nanti bingung saya gimana pas PSBB mulai lagi Senin,” ujarnya.

Pedagang bukan tanpa protes terkait kebijakan PSBB total ini. Sebab, Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) mencatat bahwa ada kurang lebih sekira 400.000 pedagang pasar tradisional dan kaki lima di sekitar pasar merasakan dampak dari wabah pandemi.

Bukan hanya penurunan omset, tapi juga banyak dari mereka yang tidak bisa melanjutkan berdagang.

“Kami mendorong kepada pemerintah daerah untuk memberikan stimulus kepada pedagang dalam rangka menjaga agar pasar tradisional tetap bertahan,” kata Ketua Bidang Infokom DPP IKAPPI, Reynaldi Sarijowan melalui keterangan tertulisnya, Jumat (11/9).

Selama PSBB ini, kata Reynaldi, omzet pedagang pasar menurun sekira 60-70 persen di DKI Jakarta.

“Ini adalah poin penting yang harus kami sampaikan, sehingga upaya dan langkah dari pemerintah daerah lebih masif, lebih nyata dan bisa dirasakan dampaknya oleh pedagang pasar di DKI Jakarta dan di seluruh Indonesia,” jelasnya. (rwo)

Comments

comments