Apartemen di Jakarta Rawan Jadi Sarang Prostitusi, Polisi Bakal Jaga Ketat

Ilustrasi - pekerja sekx komersil (PSK) dalam sebuah tempat prostitusi.(Foto : Antara)

Acuantoday.com, Jakarta- Apartemen di Jakarta kerap dijadikan tempat terselebung praktik prostitusi. Polda Metro Jaya lantas meminta pengelola memperketat pengawasan di lingkungan apartemen.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus menuturkan, kepolisian juga bakal ikut aktif mengawasi dengan cara membuat sistem sosial pengamanan yang bekerja sama dengan pihak RT setempat hingga satpam apartemen. Dengan begitu, diharapkan ruang gerak para pelaku prostitusi bisa dipersempit hingga dinihilkan.

“Kami telah bekerjasama dengan RT, RW, dan satpam untuk membentuk sistem sosial pengamanan,” ujar Yusri saat dikonfirmasi Minggu (17/1).

Yusri belum menjelaskan detail soal bagaimana teknis sistem sosial pengamanan yang dimaksud. Apakah bakal melakukan rutin razia atau ada langkah preventif lainnya. Namun yang jelas, setiap pengelola apartemen diimbau untuk mawas diri agar tak kecolongan jadi sarang prostitusi.

“Kita pastikan semua apartemen diminta untuk lebih memperketat pengawasan,” katanya.

Sebelumnya, Polres Jakarta Pusat berhasil membongkar praktik prostitusi yang selama ini terjadi di sebuah apartemen di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Total ada delapan tersangka yang ditangkap, mereka adalah SDQ, SE, GP, AM, MTW, FR, RND, dan SRL.

Kasat Reskrim Polres Jakarta Pusat AKBP Burhanuddin dalam keterangan persnya, mengungkapkan para tersangka dalam melakoni bisnisnya selalu menjajakan perempuan ke pelanggan melalui media sosial.

“Tersangka SDQ dibantu SE dan CP menawarkan jasa berhubungan intim tersebut lewat aplikasi MiChat,” ujar Burhanuddin, Selasa (12/1).

Rupanya, salah satu perempuan yang dijadikan pekerja seks komersial merupakan anak di bawah umur. Pengungkapan kasus ini pun terungkap dari salah seorang korban yang berusia 13 tahun.

Tanpa menyebut nama korban, Burhanuddin menuturkan, korban berhasil melarikan diri dari para tersangka pada 17 Desember 2020 dan lantas melaporkan apa yang dialaminya. Kepada polisi, korban mengaku mengenal awal tersangka untuk sebuah pekerjaan. Perkenalan itu terjadi pada September 2020.

“Salah satu korban yang masih berusia 13 tahun dijemput salah satu tersangka inisial SDQ dan dijanjikan untuk diajak bekerja sebagai penjaga toko pakaian,” kata Burhanuddin.

Melihat anaknya bakal diberi pekerjaan secara halal, lantas membuat orang tua korban tidak menaruh curiga kepada tersangka, saat meminta izin untuk membawa putrinya.

Namun, tidak ada toko pakaian yang dijanjikan dan justru tersangka membawa korban ke apartemen untuk dijebak sebagai pekerja seks.

“Dibujuk untuk melayani tamu berhubungan intim,” ucap Burhanuddin.

Laporan korban, kemudian ditindaklanjuti oleh kepolisian hingga akhirnya pada Sabtu (9/1), melakukan penggeledahan di Tower Bougenville dan area Tower Crisant Apartemen Green Pramuka yang disinyalir menjadi tempat prostitusi online.

Hasilnya, 47 orang berhasil diamankan, rinciannya 24 orang laki-laki dan 23 orang perempuan, dengan 12 perempuan di antaranya anak di bawah umur. Namun, hanya 8 orang tadi yang berperan sebagai muncikari ditetapkan jadi tersangka.

Para tersangka kemudian dijerat dengan Pasal 76 juncto Pasal 88 UU RI Tahun 35 Tahun 2004 tentang Perlindungan Anak serta Pasal 296 KUHP dan/atau Pasal 506 KUHP dan/atau Pasal 333 KUHP dengan ancaman 15 tahun penjara. (rwo)

Comments

comments