Bangkitkan Desa Wisata, Satgas Covid-19 Perlu Terlibat Proaktif

Suraji MSi PhD, Pemerhati Pariwisata yang juga Direktur Eksekutif Matapena Institute

Acuantoday.com,Yogyakarta– Desa Wisata merupakan aset luar biasa yang dimiliki Indonesia dan telah menjadi andalan dalam mengangkat taraf hidup dan perekonomian masyarakat di tataran tingkat bawah.

Di masa pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung setahun ini, cukup banyak Desa Wisata yang terpuruk. Tapi belakangan ini sudah ada yang mulai bangkit kembali setelah pemerintah membuka sedikit kelonggaran kebijakan terhadap kantong-kantong wisata, dengan catatan melaksanakan ‘protokol kesehatan’ (Prokes).

Menurut pandangan Pemerhati Pariwisata yang juga Direktur Eksekutif Matapena Institute, Suraji MSi PhD, desa wisata harus dibangkitkan dengan upaya dan strategi yang baik dan profesional dengan melibatkan stakeholder atau berbagai pihak terkait, termasuk Satgas Covid-19 dari level atas hingga bawah.

“Satgas Covid-19 perlu terlibat dan proaktif dalam melakukan pembinaan dan pengawasan di desa-desa wisata. Jangan sampai wisatanya bangkit tapi tercipta klaster baru desa wisata terpapar Covid-19,” kata Suraji MSi PhD, Rabu (7/4/2021).

Menurut dosen Administasi Publik Universitas Hang Tuah Surabaya itu, sejumlah daerah sudah memberikan kelonggaran kepada masyarakat terkait dengan pentas seni dan budaya, meski masih secara terbatas. Hal ini merupakan peluang bagi pengelola desa wisata untuk membangkitkan kegiatan-kegiatan pentas atau atraksi yang menarik dari kesenian dan budaya lokal.

Ia mengamati di sejumlah desa wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta ternyata ada yang tetap eksis dan mampu bertahan dengan kunjungan wisatawan, telah menerapkan protokol kesehatan dengan baik. Padahal lokasi desa wisatanya berada jauh di daerah pegunungan Menoreh, Kulonprogo.

“Desa wisata seperti ini patut dijadikan contoh. Melakukan prokes secara baik dan mandiri, serta kunjungan tamunya tetap ada, sehingga warga setempat yang terlibat ikut diuntungkan secara ekonomi. Tapi Satgas Covid-19 desa setempat harus proaktif memantau dan mengawasi,” ujar Suraji yang juga dosen di UHAMKA dan UNDIP itu.

Ia menjelaskan bahwa sektor pariwisata bisa menjadi sektor penopang pemasukan negara di bidang non migas. Di era yang semakin maju semakin pula banyak cara dan strategi untuk mengangkat potensi wisata di suatu daerah. Masing-masing daerah memiliki kekhasan atau penonjolan karakteristik alam maupun sosio kultural dan aspek lainnya. Desa memiliki segudang potensi bisnis yang menguntungkan untuk bisa diangkat menjadi komoditas dan dipoles dengan manajemen strategi yang tepat untuk menjadi desa wisata.

Langkah-langkah strategis untuk mengembangkan potensi desa menjadi desa wisata yaitu mengidentifikasi potensi desa melalui rembug bersama seluruh komponen desa dari semua kalangan. Potensi yang bisa menjadi komoditas bisa bermacam-macam dari segala aspek. Bisa keindahan alam, hasil bumi, kekayaan flora fauna/hayati, sosio kultural, masyarakat, tradisi atau hal-hal yang bersifat khas/unik yang tak dimiliki daerah lain.

“Pastikan potensi unggulan yang akan dijadikan komoditas utama.
Identifikasi permasalahan yang bisa jadi penghambat bagi pengembangan potensi wisata desa, mulai dari yang bersifat fisik, nonfisik atau sosial, internal dan eksternal. Atau bisa saja permasalahan tersebut jika diolah dengan cara tertentu justru permasalahan itu bisa menjadi potensi,” kata Suraji yang juga Sekjen Yakiin (Perkumpulan Alumni S3 Malaysia dan Negara ASEAN).

Selain itu, lanjutnya, melakukan pelatihan-pelatihan bagi seluruh komponen desa, termasuk pemerintah desa tentang manajemen pariwisata, bagaimana mengelola tempat wisata, manajemen tamu/pengunjung, beserta inovasi-inovasi yang perlu dikembangkan mengingat sebagaimana sektor lainnya sektor pariwisata pun mengalami fluktuasi dan bisa mengalami “kejenuhan”.

“Gunakan segala media untuk memperkenalkan dan mempublikasikan potensi wisata di desa baik media konvensional maupun nonkonvensional, seperti media internet. Internet kini menjadi sarana publikasi yang sangat efektif yang bisa menjangkau seluruh belahan bumi. Tempat wisata yang lokasinya terpencil pun bisa diketahui oleh orang di belahan dunia lain pun berkat teknologi internet,” tambahnya.

Ia menyarankan agar pengelola desa wisata mau belajar pada kesuksesan desa wisata lain atau studi banding.

“Kita bisa belajar banyak pada keberhasilan desa wisata lain khususnya yang sejenis. Karena tipikal permasalahan dan tantangan masa depan yang bakal dihadapi kurang lebih sama. Hanya dengan manajemen profesional dan inovatif saja desa wisata akan eksis dan kompetitif dan dapat melalui ujian yang bersifat internal, eksternal maupun regional internasional,” kata Suraji. (Chaidir)

Comments

comments