Bareskrim Polri Bongkar Jaringan TPPU Internasional, Negara Dirugikan Rp276 Miliar

Bareskrim Polri ungkap kasus TPPU lintas negara. Foto: Dok. Humas Polri

Acuantoday.com, Jakarta―Bareskrim Polri membongkar komplotan yang terlibat kasus kejahatan tindak penipuan pencucian uang (TPPU) lintas negara dengan modus business e-mail compromise (BEC). 

Jumlah kerugian akibat kejahatan itu ditaksir mencapai Rp276 miliar.

“Kasus kejahatan dengan modus email compromise yang merupakan kasus kejahatan lintas negara yang menjadi atensi dari FATF atau Financial Action Tax Force, selaku badan dunia yang dibentuk dalam penanganan kejahatan pencucian uang,” ujar Kabareskrim Polri Komjen Listyo Sigit Prabowo dalam jumpa pers di Bareskrim, Rabu (16/12).

Menurut Sigit, kejahatan ini menjadi sorotan karena berlangsung saat dunia tengah dihadapi situasi pandemi. 

Kelompok ini mengambil keuntungan dari situasi pandemi dengan menjual alat kesehatan kepada negara-negara yang tengah kesulitan mendapatkan alat dan fasilitas kesehatan terkait pencegahan koronavirus.

“Baik berupa APD ataupun alat-alat rapid test. Terkait dengan kejahatan ini Bareskrim telah menangani lima kasus melibatkan lintas negara. tiga kasus terkait dengan Covid-19 dan tiga kasus terkait transfer dana dan investasi,” papar Sigit.

Terkait dengan Covid-19, kata Sigit, pelaku biasanya mengirim ke tiga negara, yaitu Italia, Belanda dan Jerman. Sedangkan terkait dana dan  investasi adalah Argentina dan Yunani. 

Kasus ini menjadi menarik karena kasus yang melibatkan sindikat internasional dan melibatkan jaringan warga negara Nigeria dibantu oleh Warga Negara Indonesia Indonesia (WNI).

“Tentunya menjadi kewajiban kita bagaimana kemudian kita ungkap kasus ini untuk kemudian mengembalikan citra Indonesia di mata internasional terkait dengan masalah ini,” ujar Sigit.

Lebih lanjut, Sigit menerangkan, pada 3 November 2020, Divisi Hubinter Polri menerima informasi dari interpol Belanda terkait dengan penipuan dengan modus BEC ini. 

Kemudian ditindaklanjuti oleh Bareskrim Polri kemudian bekerja sama dengan rekan-rekan di PPATK.  

“Dimana korban dari modus operandi BEC ini perusahaan Belanda dengan nama PT Medipos medical spals BF,” jelas Sigit.

Adapun modus operandi dilakukan, sambung Sigit, dengan cara mengirim email terkait dengan perubahan nomor rekening saat berencana lakukan pembayaran untuk memesan rapid test Covid yang telah dipesan oleh warga negara Belanda. 

Sehingga, korban mentransfer dana ke rekening atas nama CP Bio sensor, yang merupakan perusahaan fiktif sejumlah 3.597.875 dolar Amerika atau senilai Rp52,3 miliar. 

Selanjutnya, kata Sigit, dari kegiatan tersebut maka Bareskrim polri kemudian berhasil mengamankan tersangka atas nama ODC alias Emeka dan tersangka lain. 

Kemudian tersangka Hafiz yang bertugas untuk membuat dokumen fiktif dan seolah-olah menjadi direktur perusahaan fiktif tersebut dan kemudian dibantu oleh saudara Belen alias Dani dan Nurul alias Iren.

“Sehingga total kerugian yang ditimbulkan adalah kurang lebih dari  rangkaian kegiatan mereka, sebesar Rp 276 miliar dan saat ini kita sita Rp 141 miliar,” tutur Sigit.

Sedangkan untuk kasus yang sekarang, Sigit mengaku, pihaknya menyita dokumen perusahaan fiktif dari perusahan tersebut dan uang hasil kejahatan sejumlah Rp27 miliar. 

Kemudian ditambahkan seluruhnya dari rangkaian yang ada ternyata saudara  Emeka dan Hermawan ini sudah beberapa kali melakukan kejahatan dengan modus yang sama.

“Di tahun 2018, korbannya WN Argentina dengan kerugiannya Rp43 milliar dan di tahun 2019 dengan korban WN Yunani kerugian kurang lebih Rp113 miliar. Ini sudah divonis 2 tahun 6 bulan, sementara yang pertama tadi sudah divonis 3 tahun,” kata Sigit.

Kemudian di tahun 2020 yang bersangkutan kembali melakukan kejahatan yang sama. 

Kali ini korbannya adalah warga negara Italia dengan rugian Rp 58 miliar dan di tahun 2020 juga korban warga negara Jerman dengan kerugian Rp 10 Miliar dan saat ini yang baru diekspos

 warga negara Belanda. Dari hasil kejahatan tersebut, tersangka membeli valas, aset-aset tanah, mobil, rumah dan lain lain. 

“Yang perlu saya tekankan di sini bahwa, tersangka ini walaupun sudah vonis dan menjalani hukuman di rutan Serang namun ternyata di dalam rutan, yang bersangkutan terus melakukan kejahatannya dengan bekerja sama dengan kelompoknya yang ada di Nigeria dan kelompok-kelompok baru di Indonesia,” ucap Sigit.

Akibat perbuatannya, yang bersangkutan disangkakan dengan pasal 378 dan 263 KUHP Pasal 85 UU nomor 3 tahun 2011 tentang transfer dana, pasal 45 juncto pasal 28 tentang ITE dan pasal 55 serta pasal 56 KUHP dan juga pasal 3 pasal 4 pasal 5 dan pasal 6 atau pasal 10 UU no 8 tahun 2010 tentang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang. (rwo)

Comments

comments