‘Batik Pagi Sore’ dari Masa ke Masa

Batik Pagi Sore--sumber foto bahankain.com

Acuantoday.com— ‘Batik Pagi Sore’, istilah bagi kain batik yang memiliki dua motif yang bertemu pada bagian tengah kain secara diagonal maupun horisontal. Perancang busana Didiet Maulana menyebutnya sebagai bagian dari sustainable fashion atau fesyen berkelanjutan sebab kain ini memberikan dua tampilan sekaligus.

Batik ini cukup diminati masyarakat karena dalam satu hari cukup menggunakan satu kain batik saja. Misalkan pada pagi hari menggunakan motif di sisi kanan dan sorenya di sisi lain sehingga terkesan mengenakan dua kain yang berbeda.

“Sekarang ini kan di dunia lagi heboh sustainable fashion, di mana kalau bisa kita tidak mengkonsumsi atau mengurangi pembelian busana. Orangtua jaman dulu sudah sadar akan hal ini,” kata Didiet.

Contoh kain Batik Pagi-Sore yang ditunjukkan dalam acara “Jelajah Virtual Batik Tiga Negeri Lasem”, Jumat (2/10/2020) (ANTARA/Maria Cicilia Galuh)

Masyarakat tempo dulu, ujar Didiet, sudah menyadari pentingnya hidup berkelanjutan meski dalam situasi yang berbeda. Bagi Didiet, konsep ‘Batik Pagi-Sore’ sangat berhubungan erat dengan kampanye fesyen berkelanjutan yang sedang digaungkan seluruh dunia.

“Kain Pagi-Sore adalah salah satu cara mereka untuk menerapkan sustainability fashion. Bayangkan dalam satu kain bisa memberikan dua tampilan, hari ini beda besok beda dan ini sebuah langkah penghematan dan juga langkah yang smart dan brilian,” ujar Didiet.

Dikutip dari laman resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, ‘Batik Pagi-Sore’ sudah ada sejak tahun 1930 di Pekalongan, Jawa Tengah. Desain batik ini sangat populer pada masa penjajahan Jepang karena saat itu kesulitan hidup membuat masyarakat harus menghemat.

Pada saat itu, harga kain batik sangat mahal karena dipengaruhi oleh kain mori dan obat pewarna yang langka karena jalur perdagangan terputus karena dampak perang dunia II.

Warna yang lebih gelap biasanya dipakai di bagian luar pada pagi dan siang, sedangkan warna pastel dipakai pada acara malam hari. Pola ‘Pagi-Sore’ menggambarkan suasana saat itu di mana kain sangat terbatas sehingga pembatik memiliki banyak waktu untuk mengerjakan selembar kain dengan ragam hias yang padat.***dian

 

Comments

comments