Beda Klaim Polisi dan FPI Soal Autopsi Jenazah

Lima jenazah laskar FPI yang tewas ditembak polisi di Jalan Tol Jakarta-Cikampek, Senin (7/12) dini hari dimakamkan di kawasan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (9/12) pagi. /Foto: Istimewa

Acuantoday.com, Jakarta―Perbedaan klaim antara kubu polisi dan Front Pembela Islam (FPI) soal proses autopsi jenazah enam orang anggota Laskar FPI mengemuka.

Sekretaris Bantuan hukum FPI, Aziz Yanuar, mengklaim tidak pernah menerima permohonan izin pihak kepolisian untuk autopsi. 

“Belum (pernah minta izin) dan keluarga sudah menyatakan tidak mau diautopsi karena alasan pribadi dan hak,” kata Aziz kepada Acuantoday.com, Rabu (9/12). 

Sementara itu versi polisi menyebutkan, keluarga korban sudah dikabari sehingga dilakukanlah autopsi yang berlangsung di Rumah Sakit Polri Kramat Jati sejak hari insiden.

“Iya sudah (diberitahukan kepada keluarga),” kata Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Pol Andi Rian kepada wartawan, Rabu (9/12). 

Andi menuturkan dasar polisi melakukan autopsi untuk keperluan penyelidikan dan penyidikan. 

Tindakan polisi juga diklaim berdasar ketentuan hukum sebagaimana Pasal 134 ayat 1 KUHAP, yang berbunyi ‘dalam hal sangat diperlukan di mana untuk keperluan pembuktian bedah mayat tidak mungkin lagi dihindari, penyidik wajib memberitahukan terlebih dahulu kepada keluarga korban.’ 

Dari aturan itu, Andi menyebutkan kewajiban polisi hanya sampai mengabarkan pihak terkait, tanpa mesti mengantongi izin persetujuan untuk autopsi. 

“Sesuai UU, kewajiban penyidik adalah memberitahukan keluarga, bukan mendapat persetujuan keluarga,” ucapnya. 

Aziz menyayangkan sikap sepihak polisi karena kemungkinan bisa dilakukan rekayasa dalam proses autopsi, yang mengaburkan fakta. 

Dalam pengakuannya usai melihat tubuh keenam jenazah setelah diautopsi, didapati kejanggalan berupa banyak luka tidak wajar berupa lebam di beberapa bagian. Selain memang tampak luka tembak. 

“Luka beberapa tidak wajar. (Luka) tembak juga tidak wajar,” katanya. 

Ia menduga mereka bukan meninggal karena tindakan tegas dan terukur aparat, sebagaimana yang dinarasikan kepolisian.  (rwo)

Comments

comments