Belajar dari Vietnam yang Masyarakatnya Patuh pada Protokol Kesehatan

Photo by VnExpress/Nguyet Nhi

Acuantoday.com— Tingkat kepatuhan masyarakat dalam melaksanakan Protokol Kesehatan masih jauh dari harapan. Masih banyak ditemukan masyarakat yang abai pada Protokol Kesehatan. Tak heran kalau jumlah warga yang tertular terus bertambah dari waktu ke waktu.

Data yang dikutip dari laman covid19.go.id menyebutkan, per hari ini Minggu (4/10/2020) jumlah yang terkonfirmasi Covid19 bertambah menjadi 303.498 dari sebelumnya Sabtu (3/10/2020) 298.505. Itu artinya jumlah terinfeksi baru 3.992 orang. Cukup tinggi.

Melihat jumlah yang terinfeksi cukup banyak setiap harinya, mungkin kita bisa belajar dari Vietnam yang angka terinfeksinya rendah. Duta Besar Indonesia untuk Vietnam, Ibnu Hadi pernah mengatakan, masyarakat di sana patuh melaksanakan aturan pemerintah.

Di sana, masyarakat diminta membayangkan Covid 19 sebagai musuh atau penjajah negeri mereka di masa lalu. Hal ini menjadi salah satu alasan tak ada transmisi lokal di Vietnam selama beberapa minggu terakhir.

Di sisi lain, ujar Ibnu Hadi, pemerintah juga langsung mengambil langkah saat ada potensi penyebaran. Sejauh ini, Vietnam tercatat memiliki 1069 kasus positif, dengan 35 kematian dan 1020 pasien berhasil sembuh.

Lebih lanjut, terkait tracing, seperti saran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), para tenaga kesehatan perlu mencari setidaknya 30 orang yang berkontak erat dengan pasien positif Covid 19 selama dua minggu terakhir. Mereka ini harus ditemukan setidaknya dalam waktu 3×24 jam. Bagaimana caranya? Merujuk pada upaya pemerintah di Thailand, mereka menggandeng satu juta relawan untuk melakukan tracing ini.

Sementara di Indonesia, kata pakar kesehatan Prof Dr dr Akmal Taher, hal ini salah satunya bisa dilakukan memanfaatkan puskesmas. Tenaga kesehatan di puskesmas cenderung lebih banyak berkontak dengan masyarakat ketimbang rumah sakit. “Kembali ke puskesmas, tidak mungkin dikerjakan di rumah sakit. Karena masyarakat perlu terlibat banyak dan yang paling dekat dengan masyarakat adalah puskesmas, puskesmasnya harus dibantu bekerja dengan lebih baik,” tutur Akmal.

“Kuatkan puskesmas untuk mengurangi kematian karena Covid 19, menemukan kasus Covid 19 secara dini, sekaligus menemukan mereka yang punya penyakit komorbid (penyakit penyerta seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung yang bisa memperberat kasus Covid 19),” sambung dia.

Akmal mengingatkan, selama masa PSBB saat ini, orang-orang seharusnya mempersiapkan diri untuk tetap pada pola pikir disiplin menerapkan protokol kesehatan sehingga saat bisa berkegiatan bebas lagi suatu hari, maka angka kasus tak akan kembali melonjak dan aktivitas ekonomi tetap berjalan.

“Untuk aktivitas ekonomi yang bagus, disiplin yang kuat. Jaga Jarak, pakai masker, cuci tangan. Semuanya dikerjakan pribadi atau masyarakat, baru ekonomi akan jalan. Dalam fase (PSBB) itu di mana orang tidak banyak bergiat, mindset kita enggak banyak berubah untuk mempersiapkan kalau dibuka (PSBB dilonggarkan),” ujar pakar bidang urologi ini.

Menurut Akmal, untuk menekan bahkan menghentikan laju Covid 19 di Indonesia adalah dengan melaksanakan 3 M (memakai masker, menjaga jarak dan rajin mencuci tangan) dan 3 T (tracing , testing, treatment). Ini bisa dilakukan oleh masyarakat maupun tenaga medis.

“Masyarakat mengikuti 3M (memakai masker, menjaga jarak dan rajin mencuci tangan), bagian tenaga kesehatan 3T yakni tracing (testing, treatment) atau mencari yang positif, tidak hanya menunggu, lalu tes. Kalau positif isolasi (pasien) sehingga tidak menularkan,” kata Akmal.

Mantan Kepala Bidang Penanganan Kesehatan Satuan Tugas Penanganan Covid19 berharap seluruh masyarakat mau menerapkan 3M, tak cukup hanya diberi tahu tetapi perlu ada tindak lanjut agar 3M menjadi bagian perilaku di masyarakat. Komunitas bisa berperan menjangkau masyarakat melalui pendekatan masing-masing.***dian

Comments

comments