Bio Farma Siapkan Strategi Transfer Teknologi Vaksin

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir (tengah) meninjau fasilitas produksi vaksin COVID-19 di kantor Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Selasa (4/8/2020). Menteri BUMN Erick Thohir menyatakan PT Bio Farma (Persero) telah mampu memproduksi vaksin COVID-19 dengan kapasitas 100 juta vaksin../Foto: Antara

Acuantoday.com, Jakarta―PT Bio Farma mengarahkan kebijakan untuk melakukan transfer teknologi dan mendukung kemandirian bangsa dalam memproduksi vaksin Covid-19.

“Kita punya strategi jangka pendek di mana kita melakukan transfer teknologi proses hilir dan untuk capacity building (pembangunan kapasitas) dari calon mitra kita,” kata Neni Nurainy, salah seorang Divisi Penelitian dan Pengembangan PT Bio Farma dalam dalam seminar virtual Vaksin Merah Putih: Tantangan dan Harapan, Jakarta, Rabu (14/10).

Dikatakan, Bio Farma telah melakukan kerja sama dengan Sinovac China, Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI).

Sementara, untuk strategi jangka menengah dan jangka panjang, maka harus ada pengembangan vaksin dari proses hulu.

Itu diperlukan untuk kesiapan Indonesia dan kemandirian pengembangan sumber daya dalam mengembangkan vaksin Merah Putih.

Pengembangan vaksin dari proses hulu itu didukung dengan dibentuknya konsorsium vaksin Covid-19 nasional.

Sementara itu, Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio mengatakan perlu vaksinasi, paling tidak untuk 173 juta penduduk Indonesia untuk menciptakan kekebalan populasi (herd immunity).

Apalagi jika diperlukan dua kali suntikan vaksin, maka kebutuhan vaksin akan menjadi sekitar 346 juta ampul vaksin. Itu merupakan jumlah yang banyak.

Kebutuhan vaksin tersebut tidak mungkin bisa terpenuhi dari luar sehingga perlu pengembangan vaksin secara mandiri.

Eijkman mengembangkan vaksin dengan platform sub unit protein rekombinan.

Antibodi yang dihasilkan setelah vaksinasi akan bekerja untuk mencegah terjadinya penempelan virus pada sel manusia, dan pelepasan materi genetik virus ke dalam sel manusia.

“Kapasitas produksi di dunia hanya kurang lebih separuh dari jumlah penduduk dunia, hanya sekitar tiga miliar vaksin untuk tujuh miliar penduduk. Nah, tentunya melihat situasi seperti ini Indonesia tidak bisa tergantung pada luar negeri,” ujarnya. (mad)

Comments

comments