BTN Tancap Gas Kejar Target

Ilustrasi-Transaksi di loket BTN Cabang Rasuna Said, Jakarta./Foto: Acuantoday.com (Ahmadi Supriyanto)

Acuantoday.com, Jakarta―PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk tetap tancap gas untuk memastikan target tahun ini terpenuhi.

Upaya maksimal yang akan dilakukan ini agar kredit yang disalurkan ini dapat bermanfaat untuk rakyat sekaligus mendukung program perumahan nasional yang ditetapkan pemerintah, serta target laba bersih perseroan.

Bank dengan kode saham BBTN ini menargetkan bisa membukukan laba bersih pada 2020 di kisaran Rp1,1 triliun hingga Rp1,2 triliun. Namun pada Oktober 2020, laba Bank BTN sudah menembus angka Rp1,29 triliun atau sudah di atas target yang ditetapkan.

“Tahun 2020 ini, Kami optimistis bisa menembus laba pada kisaran Rp1,4 triliun hingga Rp1,5 triliun didorong pertumbuhan pendapatan bunga bersih dan fee based income” kata Direktur Finance, Strategy and Treasury, Nixon LP Napitupulu dalam keterangan resminya di Jakarta. 

Pada November, menurut Nixon, capaian kredit tersalur merupakan angka tertinggi secara bulanan pada tahun ini yang mencapai kisaran Rp2,5 triliun. Padahal pada capaian kredit pada April berada pada kisaran Rp700 miliar.

“Ini yang menjadi optimisme kita selama akhir tahun 2020 nanti kita bisa saja melampaui target. Tapi tunggu angka pastinya nanti pada saat publikasi Desember 2020,” katanya.

Pada akhir tahun ini, lanjutnya, sejumlah target lainnya seperti pencapaian Dana Pihak Ketiga atau DPK juga diproyeksikan akan senada dengan capaian laba perseroan.

“Yang pasti, rasio dana murah atau CASA ( current account and saving account) semakin membaik atau mencapai kurang lebih 40 persen pada bulan November, lebih baik dari Oktober yang ada di kisaran 37 persen,” kata Nixon.

Keberhasilan Bank BTN mencapai target-targetnya, menurut dia, ditempuh dengan strategi yang terukur dan sektor perumahan yang menjadi fokus bisnis perseroan tidak terlalu terdampak pandemi COVID-19.

Seperti yang telah disampaikan, bank yang menguasai pangsa pasar KPR sebesar 40 persen ini melakukan pembenahan business process, memperbaiki sejumlah kebijakan, termasuk policy risk, meningkatkan kepuasan nasabah serta melakukan upgrading infrastructure digitalisasi untuk produk DPK, juga KPR.

Di tengah pandemi, menurut Nixon dukungan pemerintah dioptimalkan dengan baik oleh Bank BTN, misalnya penyaluran Dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), dan dana subsidi perumahan.

“Pemerintah menempatkan dana di Bank BTN sebesar Rp10 triliun. Hal itu guna mendorong sektor perbankan khususnya sektor perumahan. Hingga November 2020, Bank BTN telah berhasil merealisasikan Rp 25,6 triliun, hampir mencapai target yang sebesar Rp30 triliun yang sebagian besar mengalir ke KPR,” katanya.

Untuk 2021, bank yang baru-baru ini merayakan HUT KPR ke 44 itu mematok target laba pada kisaran Rp2,5 triliun hingga Rp 2,8triliun. 

Target tersebut akan dicapai dengan strategi pertumbuhan kredit antara 7-9 persen dengan DPK yang tumbuh pada kisaran yang sama.

Untuk mencapai target tersebut, bank akan terus melakukan apa yang telah dimulai tahun ini yakni perbaikan business process kredit untuk semua segmen, dan mengembangkan sejumlah strategi di antaranya melakukan transformasi operasional cabang, mengembangkan KPR non subsidi, serta mengembangkan value chain di antaranya dengan mengembangkan kemitraan dengan para developer maupun mitra lainnya dalam lingkup ekosistem perumahan.

Selain itu, mengembangkan partnership misalnya membentuk perusahaan modal ventura, membentuk anak usaha baru untuk menangkap peluang yang ada meraih fee based income, serta percepatan penyelesaian kredit macet.

Ia menjelaskan, pada kuartal III-2020, bank yang sebelumnya bernama Postpaarbank ini membukukan laba bersih yang melesat di level 39,72 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Perseroan tercatat mencetak laba senilai Rp1,12 triliun per kuartal III-2020, naik dari Rp801 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Laba bersih perseroan itu ditopang oleh penurunan beban bunga dan efisiensi. Beban bunga BTN tercatat turun 3,49 persen (yoy) menjadi Rp11,95 triliun per kuartal III-2020.

Sementara DPK naik 18,66 persen (yoy) dari Rp230,35 triliun per kuartal III-2019 menjadi Rp273,33 di periode yang sama tahun ini. (mad)

Comments

comments