Buntut Demonstrasi Ricuh di Ambon, Dua Mahasiswa Ditetapkan Sebagai Tersangka

Ilustrasi - Sukarelawan menolong perserta aksi unjuk rasa menolak UU Cipta Kerja yang terkena gas air mata akibat bentrok dengan aparat kepolisian di kawasan Pejambon, Jakarta Pusat, Selasa (13-10-2020)/Foto:Antara/Paramayuda
Acuantoday.com, Ambon – Dua oknum mahasiswa ditetapkan sebagai tersangka penghasut massa untuk melakukan kekerasan terhadap penguasa umum atau kekerasan kepada petugas yang melakukan pekerjaan sah.

Mereka terancam pidana penjara selama 7 tahun

Sebelumnya,  tersangka MR dan HS bersama 11 orang lainnya, diciduk polisi ketika terjadi aksi anarkis dalam demonstrasi menolak Undang-Undang Cipta Kerja di kawasan Poka, Kecamatan Teluk Ambon, Senin (12/10).

MR dan HS ditetapkan sebagai tersangka setelah penyidik menemukan adanya bukti permulaan yang cukup terkait keterlibatan mereka sebagai penghasut bentrokan.

“Tersangka MR (23) dan HS (25) disangkakan melanggar Pasal 214 KUHP setelah penyidik Polresta Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease melakukan gelar perkara,” kata Kasubag Humas Polresta Ambon, Ipda Isack Leatemia, seperti dikutip Antara, Rabu (14/10).

Dua mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Maluku ini,dijerat melanggar Pasal 160 KUHP yang ancaman hukumannya 6 tahun penjara, serta melanggar Pasal 212 KUHP dengan ancaman hukuman selama 1 tahun.

Saat ini kedua tersangka ditahan di rutan Mapolresta Pulau Ambon, sementara 11 mahasiswa lain dipulangkan karena tidak terbukti sebagai pemicu bentrokan dan menyerang polisi.

Aksi unjuk rasa mahasiswa menolak Omnibus Law di Kota Ambon terjadi secara bersamaan di beberapa titik, seperti Kantor Gubernur Maluku, Kantor DPRD Provinsi Maluku, Jembatan Merah Putih, dan depan Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon.

Polisi menahan 13 mahasiswa di dua lokasi berbeda setelah terjadi bentrokan yang mengakibatkan sejumlah orang luka-luka. (Yohana)

 

 

Comments

comments