Buruh dan Mahasiswa Demo di Hari Sumpah Pemuda, Tuntutannya Sama: Tolak Omnibus

Demo menolak Undang-Undang Cipta Kerja di Jakarta, Kamis (8/10) lalu./Foto: Acuantoday.com (Ramhat Tuny)

Acuantoday.com, Jakarta―Ribuan mahasiswa berencana kembali turun aksi menolak Omnibus Law Cipta Kerja, Rabu (28/10) ini, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda.

Rencananya, unjuk rasa yang bakal diikuti ribuan mahasiswa itu akan berpusat di depan Istana Negara, pukul 13 siang.

“28 Oktober menjadi hari Sumpah Pemuda sekaligus sebagai peringatan kepada pemerintah dan wakil rakyat bahwa pemuda Indonesia tidak akan diam atas kezaliman yang terjadi akhir-akhir ini,” kata Koordinator Badan Eksekutif Mahasiswa Selururh Indonesia (BEM SI Remy Hastian Putra Muhammad Puhi dalam keterangan tertulis, Rabu (28/10).

Remy menekankan, semangat hari sumpah pemuda menjadi titik tolak mahasiswa untuk kembali turun aksi menentang kebijakan pemerintah dan wakil rakyat di parlemen, yang tak berpihak pada rakyat.

Elemen mahasiswa yang akan turun aksi datang dari macam kampus di Jabodetabek, dan beberapa kampus di Pulau Jawa dan Sumatera.

Estimasinya, menurut dia, ada 1.000 massa aksi yang turun, mereka menuntut hal yang sama: menuntut Presiden Joko Widodo cabut UU Cipta Kerja dengan penerbitan Perppu.

Selain mahasiswa, buruh disebutkan juga akan ikut serta dalam demo lanjutan ini. Jumlahnya sekitar 1.500 orang buruh yang tergabung dalam Gerakan Buruh Bersama Rakyat (Gebrak) akan turun ke jalan pada Hari Sumpah Pemuda untuk menyuarakan kembali penolakan Omnibus Law UU Cipta Kerja.

Berbeda dengan mahasiswa, titik demonstrasi kali ini akan berpusat di Tugu Proklamasi, Jakarta.

“Gebrak akan menyelenggarakan Mimbar Akbar Mosi Tidak Percaya pada 28 Oktober, estimasi massa 1.500 orang,” kata Juru Bicara Gebrak Nining Elitos dalam keterangan tertulis, Rabu (28/10).

Dalam menjaga kondusifitas demonstrasi, Polda Metro Jaya menyiapkan sekitar 10 ribu personel.

“Sekitar 10 ribuan (personel) tambah 10 ribu ada pasukan cadangan,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus saat dikonfirmasi, Rabu.

Banyaknya personel yang diterjunkan, menurut Yusri untuk mengimbangi massa aksi yang diperkirakan sekitar tiga hingga empat ribu orang.

Momen demo hari ini tampaknya merupakan akumulasi kekecewaan buruh terhadap dua hal, yakni soal kekecewaan terkait pengesahan UU Cipta Kerja dan kebijakan pemerintah yang berencana tidak akan menaikkan upah minimum tahun depan.

“Rakyat sudah jatuh, tertimpa Omnibus Law, terjepit pula surat edaran menteri ketenagakerjaan tentang upah yang tidak akan naik pada tahun 2021,” keluh Nining. (rwo)

Comments

comments