Cerita Pilu Sopir Bus Bandung-Jakarta Selama Pembatasan

Sesaat sebelum penumpang di terminal Leuwipanjang masuk ke bus tujuan Jakarta, Pandemi COVID-19 membikin merana sopir bus./Foto: Acuantoday.com (Rohman Wibowo)

ARIS senang bukan kepalang. Gawai yang sedang digenggamnya berdering. Tertera pesan terusan dari sekarang kawannya. Maklumat itu mengabari Terminal Leuwipanjang bakal dibuka kembali. 

Tuntas sudah masa hiatusnya, jeda dari aktivitasnya sebagai sopir bus sejak kali pertama pemerintah pada April lalu menutup sementara terminal, seiring dimulainya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) se-Bandung Raya. 

Aris ingat betul, 12 Juni jadi hari pertama pegang kemudi lagi. Ia kembali mengantar penumpang dari Bandung-Jakarta dan sebaliknya. Namun, ada hal yang mencolok dirasanya saat kali pertama balik ke terminal. 

Lalu-lalang banyak orang yang saban hari jadi pemandangan rutinnya tak begitu lagi tampak. “Gak nyangka jadi sepi gini,” katanya kepada Acuantoday.com, Selasa (15/9). 

Rasa herannya kian memuncak, ketika melongok ke dalam bus, sesaat sebelum tancap gas. Bangku yang terisi oleh penumpang hanya hitungan jari. Hati riang balik mengaspal lantas berganti jadi kelabu.

Ia tak sepenuhnya menyadari pesan yang diterima kemarin. Hilman, kondekturnya pun menyambar bilang, “Jangan kaget. Kita cuma bisa bawa setengah penumpang sekarang. Ada aturan anyar.”   

Apa yang dirasa Aris merupakan imbas aturan PSBB, yang mewajibkan setiap bus tak boleh berisi 50 persen dari kapasitas maksimal. Musabab lain bus tampak sepi karena berlakunya kebijakan Surat Izin Keluar Masuk (SIKM) dari dan menuju Jakarta. 

Penumpang berasal dari ibu kota tak dinafikkan sebagai sumber pendapatan Aris, mengingat jumlah yang masif utamanya saat akhir pekan. 

“Kalau hari normal sebelum pandemi, biasanya angkut 47 penumpang. Sekarang paling banyak 11 orang,” tuturnya.  

Bagi Aris, sepi penumpang di masa pandemi jadi bencana finansial. Gaji yang biasanya dibayar penuh saban bulan, mesti rela dipotong perusahaan karena beban biaya operasional tak sebanding dengan pendapatan.

Akibat sepinya penumpang, bahkan jatah mengemudi pun dibatasi. Aris menyebut bila biasanya bisa pulang-pergi Jakarta-Bandung sebanyak 3 kali, tapi kini hanya sekali. (Rohman Wibowo)

Comments

comments