Cerita Pinangki Hamburkan Uang Suap Djoko Tjandra

Jaksa non-aktif Pinangki Sirna Malasari saat menjalani proses penyidikan di Kejaksaan Agung/Foto: Antara

KASUS suap Djoko Tjandra memasuki babak baru. Rabu (23/9) kemarin, Pinangki Sirna Malasari, tokoh sentral kasus ini, tidak saja didakwa menerima uang haram dari Djoko senilai 500 ribu dolar AS (sekitar Rp7 miliar), tetapi ia juga dituduh melakukan pencucian atas dana tak halal itu.  

Tuduhan kepada mantan Kepala Sub Bagian Pemantauan dan Evaluasi II Biro Perencanaan Jaksa Agung Muda Pembinaan di Kejaksaan Agung itu tidak main-main. Jaksa, dalam tuntutannya menyebut, Pinangki telah menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membelanjakan, membayarkan, menghibahkan, menitipkan dan membawa uang pemberian Djoko Tjandra ke luar negeri.

Jaksa nonaktif ini juga dituduh mengubah bentuk uang menukarkan dengan mata uang atau surat berharga.

“Atau perbuatan lain atas harta kekayaan yang diketahui atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat 1,” tegas jaksa saat membacakan surat dakwaan dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (23/9).

Cerita tidak berhenti di situ. Dalam persidangan, jaksa membeberkan, wanita yang telah 15 tahun berkarir sebagai jaksa itu melibatkan sanak saudara dalam tindak pencucian uang. 

Dari hasil praktik jahat itu, Pinangki disebut nyaris menghamburkan seluruh uang suapnya sebanyak 444.900 dolar AS, atau setara Rp6.219.380.900. Uang sebanyak itu hamburkan Pinangki untuk berfoya-foya, misalnya, membeli mobil mewah, bayar sewa apartemen hingga bayar jasa perawatan kecantikan di luar negeri. 

Sejak November 2019, Pinangki melibatkan suami, adik hingga sopir pribadinya untuk mencuci uang dengan berbagai cara dan dilakukan di sejumlah tempat. Hal ini dilakukan dengan tujuan menyembunyikan atau menyamarkan asal-usul harta kekayaannya, yang berasal dari uang korup. 

Mulanya, ia menukar 337.600 dolar AS atau setara Rp4.753.829 miliar melalui money changer di bilangan Melawai, Jakarta Selatan. Menyadari penukaran uang itu bakal jadi masalah,  Pinangki lalu meminta bantuan suaminya, yang merupakan seorang perwira kepolisian berpangkat Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) untuk menggunakan nama stafnya dalam transaksi penukaran uang itu. 

Sang suami lalu memerintahkan stafnya untuk menukar uang di Dolarindo Money Changer sebanyak 10.000 dolar AS atau setara Rp147.130 juta pada 18 Mei 2020. Untuk transaksi ini, Pinangki melibatkan adik kandungnya. Rekening adiknya menjadi rekening tampungan atas nominal itu. 

Sopir Pinangki pun ikut diseret. Ia meminta supirnya menukar uang sebanyak 15 kali dalam kurun November 2019 hingga Maret 2020 dengan total 280 ribu dolar AS atau Rp3,9 miliar.

Begitu dirasa aman, tanpa  dicurigai oleh Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PTAK), selanjutnya semua hasil pencucian uang disetor ke rekening pribadi Pinangki dan sebagian disetor secara tunai dari orang suruhannya.

Pinangki tanpa ragu membelanjakan uang haram itu untuk membeli segala barang-barang mewah. Sebut saja satu mobil mewah BMW X5 senilai Rp1,7 miliar. Kemudian membayar sewa apartemen mahal di Amerika Serikat seharga Rp412 juta dan apartemennya di The Pakubuwono Signature serta di Darmawangsa Essence dengan total Rp1,46 miliar. 

Tak hanya itu, uang juga dipakai untuk jasa dokter kecantikan di Amerika Serikat dan membayar dokter home care, yang diketahui berjumlah Rp596.310 juta. (rwo)

Comments

comments