Curhat Penyintas Covid 19 yang Mengharukan

Ilustrasi - Rumah karantina di Kota Banjarmasin yang disiapkan warga secara swadaya bagi penderita COVID-19. ANTARA/Bayu Pratama Syahputra

Acuantoday.com— Seorang penyintas Covid 19, dr Nurhidayati, yang merupakan tenaga kesehatan RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso mengaku menghadapi stigma warga di lingkungannya ketika dia menderita Covid 19.

“Untuk tetangga jauh mereka benar-benar menjauh, ‘mengucilkan’ sampai tidak ada orang yang lewat depan rumah saya,” ungkap Nurhidayati dalam seminar virtual “Penyintas Covid 19 Bicara” yang diadakan Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, Minggu.

Nurhidayati terkonfirmasi positif Covid 19 dari hasil uji usap yang keluar pada 18 April 2020. Gejala awal yang dia rasakan berupa meriang, hidung tersumbat, penciuman berkurang, lemas, pusing dan nyeri tenggorokan.

Wanita 30 tahun ini bekerja sebagai dokter umum di instalasi gawat darurat di RSPI, dan ketika RSPI menjadi rumah sakit rujukan Covid 19 dia menjadi dokter ruangan isolasi yang menangani pasien Covid 19.

Pada saat diketahui informasi bahwa Nurhidayati menderita Covid 19, ada orang-orang sekitar yang takut lewat di depan rumahnya. Mengetahui hal itu
Nurhidayati pun menjelaskan dan meminta bantuan kepada ibu RT dan tetangga terdekat untuk mengedukasi warga sekitar dan membangun pemahaman yang benar tentang penularan Covid 19.

“Saya memberikan informasi via Whatspp dan telepon ke bu RT untuk memberikan penjelasan kalau sudah ada jarak, beda rumah, tidak akan tertular,” tuturnya.

Dia mengatakan peran RT sangat penting untuk menenangkan orang-orang di sekitar untuk tidak panik dan mencegah terciptanya stigma terhadap penderita Covid 19.​​​​​​​

Nurhidayati yang tinggal di daerah Bekasi Barat mengaku hanya melakukan perjalanan dari kantor ke rumah dan sebaliknya sehingga kemungkinan dia tertular Covid 19 terjadi di lingkungan kerja.***dian

Comments

comments