Menohok, Dedi Mulyadi Sebut Abu Janda Banyak Aksi Kurang Isi

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi. (Foto : Antara)

Acuantoday.com, Jakarta―Anggota DPR RI Dedi Mulyadi menyebut Permadi Arya alias Abu Janda adalah tipikal influencer yang banyak aksi tetapi kurang isi. 

Hal itu disampaikan dalam menanggapi pernyataan Abu Janda terkait Islam adalah agama arogan.

“Abu Janda adalah problem minimnya gagasan kaum influencer. Banyak aksi kurang isi. Banyak aksi kurang referensi,” kata Dedi dalam keterangan tertulis, Sabtu (30/1).

Dedi menjelaskan, Abu Janda selalu muncul dengan pakaian tradisional Jawa. Namun cara bicara dan tindak tanduknya tidak mewakili budaya Jawa.

“Saya malah bertanya, sebenarnya dia ini mewakili siapa. Kalau mewakili kaum tradisi, tradisi mana yang dia kembangkan? Kalau mewakili kaum nahdliyin dia nyantri di mana dan kitab apa yang dia sukai. Kalau bicara tentang pluralisme, nasionalisme, maka dilarang untuk bersikap rasialisme,” ucapnya.

Dedi mengatakan, negeri ini membutuhkan orang-orang yang memiliki karya nyata dan sikap keteladanan yang memadai. 

Hanya dengan kedua sifat itulah, kata Dedi, masyarakat bisa membangun Indonesia yang majemuk ini secara baik.

Menurutnya, berbagai tindakan yang membuka ruang perdebatan tanpa dasar hanya akan melahirkan konflik yang tak berkesudahan. 

“Saatnya menata negeri ini dengan baik. Demokrasi harus diisi oleh orang-orang cerdas,” ungkap.

Dikatakan Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, demokrasi hanya akan diisi oleh orang-orang cerdas dan objektif, tanpa membabi buta berbicara kepada sebuah kelompok pemikiran yang berbeda.

 

“Kalau kaum pluralis membabi buta pada kelompok yang dianggap berbeda, apa bedanya dengan kaum fundamentalis?” ujarnya.

Lebih jauh mantan Bupati Purwakarta ini, kerangka berpikir tentang kebangsaan hanya akan diisi jiwa kebangsaan. 

Sebaliknya, ketika berbicara tentang kebangsaan atau nasionalisme, kalau jiwanya hanya diisi jiwa kelompok atau isme, Dedi menilai itu tidak ada artinya.

“Artinya bahwa kebangsaan atau nasionalisme hanya menjadi paham berdasarkan isme yang kita yakini. Maka dalam perjalanannya hanya saling mengalahkan. sehingga isme-isme itu hanya isu atau kemasan. Nasionalisme itu isi dari sistem kebangsaan kita, bukan hanya kemasan,” urainya.

Ia menilai, hari ini isme-isme itu berubah menjadi kemasan politik, karena kemasan politik, seringkali perilaku mereka yang merasa nasionalis tapi tidak mencerminkan nasionalisme.

“Ternyata tidak bisa objektif, tetap berpihak. Di luar golongan kita, kita anggap salah. Fenomena Abu Janda itu salah satunya. Dia juga termasuk problem influencer yang minim gagasan tapi banyak aksi,” pungkasnya. (rht)

Comments

comments