Deflasi Berturut-turut Sinyal Ekonomi Masih Lemah, Berbagai Stimulus Perlu Digenjot

Ilustrasi-Suasana belanja di sebuah departemen store sebelum masa pandemi./Foto: Acuantoday.com (Ahmadi Supriyanto)

Acuantoday.com, Jakarta―Deflasi yang terjadi selama tiga bulan berturut-turut merupakan sinyal bahwa ekonomi Indonesia belum pulih karena permintaan masih rendah. Sinyal itu menjadi acuan bagi pemerintah untuk terus menggenjot berbagai stimulus yang bisa menggerakkan permintaan seperti bantuan sosial, banpres produktif, dan subsidi gaji.

Ini jadi sinyal bagi pemerintah interpretasinya bahwa sisi permintaan belum pulih,” kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu dalam diskusi daring di Jakarta, Kamis (1/10).

Mengenai resesi, Febrio mengatakan, memang sudah diprediksikan Indonseia bakal mengalami hal tersebut sejak perekonomian melambat pada kuartal I yang hanya tumbuh 2,97 persen.

Kemudian perlambatan berlanjut pada kuartal II yakni terkontraksi hingga 5,32 persen serta untuk kuartal III diperkirakan masih dalam zona negatif di kisaran minus 2,9 persen hingga minus 1 persen.

“Kalau resesi, ya tahun ini sudah. Resesi bukan sesuatu yang terlalu penting kapan resesinya. Tapi yang namanya resesi itu adalah perlambatan aktivitas ekonomi secara berkepanjangan,” katanya.

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat deflasi sebesar 0,05 persen pada September 2020 atau sama dengan periode Agustus-Juli yang juga mengalami deflasi.

Dengan terjadinya deflasi, inflasi tahun kalender Januari-September 2020 mencapai 0,89 persen dan inflasi tahun ke tahun (yoy) sebesar 1,42 persen.

Dengan demikian, selama tiga bulan berturut-turut telah terjadi deflasi pada perekonomian nasional yaitu Juli sebesar 0,10 persen dan Agustus serta September masing-masing 0,05 persen. (mad)

Comments

comments