Deklarasi Kemerdekaan Papua Barat Hanya Agenda Seremoni Biasa

Profil sebagian dari kelompok separatis bersenjata di Papua. ANTARA/HO-Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III TNI

Acuantoday.com, Jakarta- Pengamat politik Internasional Arya Sandhiyudha menilai, deklarasi kemerdekaan Kelompok United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) oleh Benny Wenda Cs hanyalah agenda seremoni tahunan. Pasalnya, deklarasi kemerdekaan Papua Barat ini tidak pernah ditanggapi oleh Persatuan Bangsa Bansa (PBB)

“Nyatanya mereka tidak pernah membawa fakta itu secara terbuka untuk diperdebatkan. Jadi sebenarnya ini seremoni yang tidak pernah mendapatkan respons secara serius di dunia internasional,” kata Arya di Jakarta, Jumat (4/12).

Menurut Arya, aksi Benny Wenda Cs ini tidak mendapat respon dari PBB karena mereka tidak memiliki bukti yang kuat atas pengklaiman kemerdekaan. “Itu kan sebenarnya punya jalur kalau di suara intenasional, seperti PBB kan ada Komisi Dewan HAM yang bisa menjadi sarana memperdebatkan fakta-fakta,” ucapnya.

Olehnya itu, deklarasi semacam ini dijadikan sebagai propaganda yang diagendakan setiap tanggal 1 Desember. “Bukan sekali ini saja. Jadi bisa disebut ini adalah upaya yang sifatnya reguler setiap tahun,” ujarnya.

Sejauh ini, langkah Benny Wenda Cs tidak pernah berhasil menyita perhatian publik internasional terkait dengan propaganda kemerdekaan Papua Barat atau UMLWP.

“Berusaha setiap tahun propaganda internasionalisasi isu papua bersama dengan kolega di luar negerinya, ada Yacob Rumbiak, Octavianus Mote, dan beberapa tokoh UMLWP lainnya, yang sebenarnya usaha itu tidak pernah berhasil di suara intenasional. Kita lebih banyak mendengar propaganda yang sifatnya seperti klaim sepihak,” jelasnya.

Dijelaskan Arya, Pemerintah Indonesia bisa membalas gerakan Benny Wenda Cs, karena gerakan-gerakan mereka sejak lama tidak berubah, hingga mudah untuk dipatahkan atau di lawan.

“Kita menggarisbawahi pola ini sebenarnya mudah dibaca, harusnya pemerintah bisa lebih efektif melakukan balasam melalui instrumen diplomasi kita,” tuturnya.

“Misalnya mengefektifkan upaya dari kantor perwakilan kita di Inggris, yang sebenarnya kan sudah tahu pola Benny Wenda seperti apa. Dia itu masuk ke kampus-kampus, lalu masuk ke asosiasi dagang, masuk ke LSM pro ham yang sebenarnya mereka tidak terlalu mengerti dengan basis permasalahan Papua,” pungkas Arya.

Sebagaimana diketahui, Benny Wenda ditetapkan sebagai Presiden sementara Pemerintahan Papua Barat, setelah mendeklarasikan kemerdekaannya pada, Selasa (1/12) kemarin. (rht)

Comments

comments