Didakwa Terima 500 Ribu Dolar AS, Pinangki Siap Eksepsi

Kepala Subbagian Pemantauan dan Evaluasi II Biro Perencanaan Jaksa Agung Muda Pembinaan Kejaksaan Agung Pinangki Sirna Malasari menghadiri sidang perdana dengan agenda pembacaan dakwaan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Rabu (23-9-2020)/Foto:Antara

Acuantoday.com, Jakarta―Jaksa nonaktif Pinangki Sirna Malasari siap mengajukan eksepsi atau nota keberatan atas dakwaan JPU yang menyebut dirinya menerima uang 500 ribu dolar AS dari Djoko Tjandra.

“Mohon seminggu untuk mengajukan keberatan terdakwa,” kata kuasa hukum Pinangki, Aldres Napitupulu, kepada wartawan usai sidang, Rabu (23/9).

Seperti diketahui, Jaksa Pinangki Sirna Malasari didakwa menerima uang sebesar 500 ribu dolar AS dari Djoko Tjandra untuk mengurus fatwa di Mahkamah Agung (MA). 

JPU Roni mendakwa Pinangki dengan ancaman pidana Pasal 5 ayat (2) Jo. Pasal 5 ayat (1) huruf a UU 31/1999 sebagaimana telah diubah dengan UU 20/2001 tentang pemberantasan korupsi; pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 5 tahun, dan atau pidana denda paling sedikit Rp50 juta dan paling banyak Rp250 juta rupiah.

Aldres menilai ada yang janggal dari setiap dakwaan JPU, sebab karena kliennya dalam dakwaan kesatu dituduh menerima janji sejumlah uang dari Djoko Tjandra, tetapi, pada dakwaan ketiga disebutkan jaksa bermufakat jahat karena memberikan uang kepada pihak lain dengan jumlah sama. 

“Ya, ini menurut kami cukup aneh ketika terdakwa dituduh sebagai penerima tapi dituduh juga sebagai pemberi. Itu yang akan menjadi salah satu poin keberatan kami,” ujar Aldres.

JPU dalam dakwaannya mengatakan, perbuatan Pinangki bertentangan dengan tupoksi Kejaksaan RI, tidak bersih dari korupsi, melanggar sumpah janji Jaksa, dan melanggar kedisiplinan sebagai PNS.

Jaksa kemudian mendakwa Pinangki dengan Pasal 15 Jo. Pasal 13 UU 31/1999 sebagaimana telah diubah dengan UU 20/2001 tentang pemberantasan korupsi; pidana penjara paling lama 3 tahun, dan atau denda paling banyak Rp150 juta.

Lantaran Pinangki dan tersangka Andi Irfan Jaya berencana memberikan hadiah atau janji berupa uang 10 dolar AS kepada pejabat Kejaksaan Agung dan Mahkamah Agung untuk memperlancar terbitnya fatwa bagi Djoko Tjandra.

Pinangki juga didakwa dengan Pasal 3 UU 8/2010 tentang pencucian uang; pidana penjara paling lama 20 tahun dan denda paling banyak Rp10 miliar.

Kasus ini bermula dari pertemuan antara Pinangki, Andi Irfan, dan Anita Kolopakin (eks pengacara Joko Tjandra) dengan Joko Tjandra, di Kuala Lumpur, Malaysia pada November 2019 lalu. Dalam pertemuan itu, Djoko Tjandra setuju untuk meminta bantuan Pinangki dan Anita untuk mengurus fatwa. (rwo)

Comments

comments