Didorong Pemanfaatan Karang Hias sebagai Komoditi Perdagangan

Wakil Ketua DPD RI Mahyuddin saat meletakkan bibit Karang Hias dalam keranda yang kemudian dilepas liarkan di laut lepas.hingga menunggu waktu panen tiba di perairan lau Bali./Foto : Biro Pemberitaan DPD RI

Acuantoday.com, Bali- Bisnis karang hias beberapa tahun lalu sempat buming, dimana Indonesia menjadi negara pengekspor karang hias terbesar di dunia pada periode 2013 hingga 2017.

Namun, bisnis ini dikhawatirkan akan merusak alam Indonesia, hingga di tahun 2018 ada larang mengekspor karang hias oleh Pemerintah.

Menurut Mahyuddin, karang hias Indonesia menjadi pilihan utama negara-negara barat termasuk Amerika Serikat, karena memiliki warna dan bentuk yang berbeda hingga harga jualnya begitu tinggi.

“Itulah yang membuat hasil ekspor karang hias alam dari Indonesia sangat disukai oleh pasar di luar negeri terutama Amerika Serikat sebagai pangsa pasar terbesar,” kata Mahyuddin lewat keterangan persnya di Bali, Sabtu (17/10).

Senator asal Kalimantan Timur ini melanjutkan, di tahun 2019 yang lalu kuota karang hias alam yang direkomendasikan oleh LIPI, dan ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) adalah 565.050 potong. Jumlah ini hanya 0,0001 persen dari populasi karang hias di Indonesia. Kuota karang hias alam yang diberikan ini turun setiap tahun dimana kuota awalnya adalah 824.550 potong di tahun 2008.

“Kami pada dasarnya mendukung pemanfaatan karang hias sebagai komoditi perdagangan, mengingat jumlah karang hias yang diperlukan kurang dari satu persen populasi karang hias di Indonesia. Ukuran karang hias yang diambil juga relatif kecil,” ujarnya.

“Namun kita harus bersama-sama berkomitmen agar cara pengambilannya dilakukan dengan hati-hati, memperhatikan aspek lingkungan dan tidak boleh memanfaatkan alat yang berpotensi merusak seperti alat keruk, bom, trawler pukat harimau,” sambung Mahyudin.

Olehnya itu, Mahyudin berharap sektor usaha ini akan mampu menopang upaya recovery perekonomian nelayan, masyarakat di daerah, pelaku usaha pariwisata, dan perekonomian Nasional. Selain itu, ia juga mendukung program Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia dalam bentuk kegiatan BISA (Bersih, Indah, Sehat dan Aman) khususnya wisata bawah air.

“Semoga seluruh rangkaian kegiatan kita berlangsung dengan sukses, lancar, dan memberikan manfaat yang signifikan bagi semua pihak,” harapnya. (rht)

Comments

comments