Dikritik FPKS, Usulan Pansus Jiwasraya Dibiarkan Menggantung Pimpinan DPR RI

Logo Jiwasraya terpampang pada sebuah gedung di Jakarta./Foto: Acuantoday.com (Ahmadi Supriyanto)

Acuantoday.com, Jakarta- Usulan Panitia Khusus (Pansus) kasus korupsi Jiwasraya masih menggantung di meja pimpinan DPR RI.

Menggantungnya Pansus Jiwasraya ini membuat kasus tersebut makin tidak jelas, dan kepastian keadilan bagi nasabah juga makin tidak jelas.

“Jika tidak, jelas bisa mempengaruhi industri keuangan dan perekonomian nasional,” kata Anggota DPR RI Fraksi Keadilan Sekahtera (PKS) Mardani Ali Sera, Senin (22/2).

Menurut Mardani, Fraksi PKS telah mengusulkan pembentukan Pansus Jiwasraya agar ada kepastian hukum, dan masalah korupsi Jiwasraya ini tidak merugikan industri keuangan nasional. Pasalnya, kerugian Jiwasraya mencapai Rp 13,7 triliun, lebih besar 2x dari nilai kasus Bank Century yang hanya Rp 6,7 triliun.

Seperti yang tertera pada pengaturan pos cadangan premi, revaluasi aset dan nilai aset lainnya. Semua ini terlihat seperti kecurangan yang terorganisir. Tidak salah publik melihat Jiwasraya yang dirusak cukup rapi dari dalam.

“Hal lain, patut diduga ada kelemahan dalam pengawasan yang dilakukan OJK dan Kementerian BUMN. Seperti yang kita tahu, OJK diamanatkan untuk mengawasi lembaga keuangan nonbank,” ucapnya.

Lanjut Anggota Komisi II DPR RI ini, Kementerian BUMN merupakan pihak yang bertanggung jawab atas pengelolaan kekayaan negara termasuk pelaksanaan RUPS dan penetapan pejabat.

Yang kian menyedihkan, kata Mardani, ketika usulan Pansus tidak kunjung digubris, BUMN tersebut justru mendapatkan suntikan PMN sebesar 20 triliun secara bertahap.

“Melalui APBN, uang rakyat. Etiskah? Ketika masyarakat memerlukan banyak bantuan akibat pandemi yang tak kunjung berakhir,” gugatnya.

Oleh karena itu, ia menegaskan alasan FPKS DPR RI mendesak keberadaan pansus untuk menguak kasus ini secara adil.

“Bagaimana penyelesaian kasus Jiwasraya dapat memberikan kepastian bagi 5,2 juta nasabah dan tentu tidak merugikan mereka,” pungkasnya. (rht)

Comments

comments