Dilanda Cuaca Ekstrem, Kulonprogo Antisipasi Bencana Hidrometeorologi

Pantai Glagah Kulonprogo yang beberapa hari ini mengalami ombak besar akibat cuaca ekstrem. (Foto : Chaidir/Acuantoday.com)

Acuantoday.com, Yogyakarta- Dalam beberapa hari ini Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dilanda cuaca ekstrem.

Dampak yang sudah terasa seperti hujan lebat disertai angin kencang dan mengakibatkan longsor, pohon bertumbangan, dan di pantai selatan ombak tinggi bisa mencapai 5 meter.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi DIY sudah mengingatkan kepada seluruh pemda di DIY agar meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem dan mengantisipasi bencana hidrometeorologi ini.


Hempasan ombak besar akibat cuaca ekstrem menerpa bebatuan penahan ombak di dermaga Pantai Glagah Kulonprogo. (Foto : Chaidir/Acuantoday.com)

Merespons peringatan BMKG DIY, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kulonprogo melakukan antisipasi terhada potensi cuaca ekstrem yang berdampak kepada terjadinya bencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah Kulonprogo. Baik logistik, personil, dan kesiapan Early Warning System (EWS) telah disiapkan.

Kepala Pelaksana BPBD Kulonprogo Ariadi mengatakan, peringatan dini yang dikeluarkan oleh BMKG Stasiun Klimatologi DIY direspons secara cepat oleh jajarannya.

“Peringatan tersebut sudah diinformasikan kepada seluruh Kalurahan dan Kapanewon serta komunitas relawan kebencanaan di Kulonprogo,” ujar Ariadi, Kamis (25/2/2021).

Dikatakan baik personel, logistik, maupun peralatan juga telah dipersiapkan oleh jajarannya untuk mengantisipasi ancaman bencana hidrometeorologi yang berpotensi terjadi di sejumlah wilayah di Kulonprogo dikarenakan cuaca ekstrem seperti hujan lebat disertai angin kencang.

“Seluruhnya sudah kami persiapkan apabila terjadi kebencanaan hidrometeorologi. Terkait dengan personel, kami melibatkan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) meliputi Balai Besar Wilayah Serayu Opak (BBWSO), TNI, Polri, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), (Palang Merah Indonesia) PMI dan beberapa relawan,” jelas Ariadi.

Kesiapan EWS juga menjadi perhatian BPBD Kabupaten Kulonprogo. EWS tersebut telah terpasang di sejumlah wilayah di Kulonprogo yang berpotensi terjadi tanah longsor. Selain angin kencang, banjir, ombak tinggi di pantai selatan, wilayah Kulonprogo juga rawan terjadi tanah longsor.

17 EWS tersebut tersebar di sejumlah wilayah di Kulonprogo. Di antaranya, enam EWS dipasang di Kapanewon Samigaluh meliputi Desa Ngargosari, Banjarsari, Kebonharjo, Purwoharjo, Pagerharjo dan Sidoharjo.

Empat EWS di Kapanewon Kokap meliputi Desa Hargotirto, Hargowilis, Kalirejo dan Hargomulyo. Kemudian, tiga EWS di Kapanewon Girimulyo meliputi Desa Giripurwo, Jatimulyo dan Purwosari.

Selanjutnya, tiga EWS di Kapanewon Kalibawang meliputi Desa Banjarsari dua EWS dan 1 EWS di Banjaroya. Serta satu EWS di Desa Sidomulyo, Kapanewon Pengasih.

“Tiga EWS sisanya masih kami simpan sebagai cadangan di kantor BPBD Kabupaten Kulonprogo. Nanti akan dipasang apabila ada desa yang memerlukan. Seluruh EWS yang telah terpasang tersebut masih aktif,” ungkap Ariadi.

Adapun, bagi nelayan maupun wisatawan yang berencana akan mengunjungi perairan selatan Kulonprogo diimbau untuk mengantisipasi gelombang tinggi. Diharapkan, wisatawan mematuhi imbauan yang dikeluarkan oleh tim SAR yang bertugas di perairan selatan Kulonprogo.

“Sementara, terhadap gelombang tinggi di perairan selatan Kabupaten Kulonprogo, kami mengimbau kepada masyarakat dan wisatawan yang berkunjung ke pantai agar tetap waspada dan patuh terhadap petugas yang berjaga di kawasan tersebut,” katanya. (Chaidir)

Comments

comments