Dilaporkan ke Polisi karena Bermimpi, Pakar Hukum: Bagaimana Mengukurnya?

Ilustrasi tidur--sumber foto kerrybloomdds.com

Acuantoday.com, Jakarta- Laporan politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Husin Shahab terhadap Ustadz Haikal Hassan di Polda Metro Jaya terkait mimpinya bertemu Nabi Muhammad SAW menuai polemik.

Laporan Husin Shahab ini mendapat tanggapan dari pakar hukum tata negara Refly Harun. Menurut Refly Harun, dalam hukum tidak ada proses pembuktian soal mimpi seseorang.

“Namanya mimpi kan tidak ada proses pembuktian orang melihat dan mendengar. Kan tidak melanggar hukum apa-apa, kalau kemudian menceritakan sebuah mimpi,” kata Refly Harun di kanal YouTubenya, yang dikutip pada, Kamis (17/12).

Refly Harun mengaku bingung dengan langkah Husin Shahab yang melaporkan mimpi orang ke Polisi, karena untuk mengukur pelanggaran pidana dalam mimpi tersebut tidak bisa.

“Saya juga berpikir, kalau melaporkan orang bermimpi, ya bagaimana mengukurnya? Karena saya orang hukum dan hukum itu harus ada ukuran,” jelasnya.

Bahkan, untuk mengukur omongan seseorang bahwa yang bersangkutan bohong atau tidak sangat sulit. “Bagaimana cara kita mengukur bahwa seseorang itu bohong, kalau yang dia ceritakan itu mimpi?” ucapnya.

Sebelumnya, politisi PSI Husin Shahab mengakui langkah melaporkan Haikal Hassan ke Polda Metro Jaya, soal mimpi bertemu Rasulullah SAW berbahaya bagi masyarakat jika hal itu dipercaya seutuhnya. Bahkan, menurut Husin Shahab, pernyataan Haikal Hassan berpotensi menggiring opini masyarakat, bahwa melawan negara akan mengantarkan seseorang untuk mati syahid. (rht)

Comments

comments