Dino Patti Djalal Dilaporkan Balik

Pendiri organisasi kebijakan luar negeri Foreign Community Policy Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal usai acara simposium Jakarta Forum bertajuk 'Perkembangan China dan Masa Depan China dan ASEAN dan China Bersama' yang digelar di gedung Sekretariat ASEAN Jakarta, Selasa (10/9/2019)/Foto :Antara

Acuantoday.com, Jakarta- Usai membongkar adanya sindikat penipuan pemilikan tanah yang menimpa ibunya, kini, giliran mantan Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia Dino Patti Djalal yang dilaporkan balik ke polisi oleh Fredy Kusnadi atas tuduhan pencemaran nama baik.

Fredy Kusnadi yang sebelumnya disebut sebagai mafia tanah oleh Dino, melalui kuasa hukumnya Tonin Tachta Singarimbun, melaporkan Dino Patti Djalal ke Polda Metro Jaya.

“Klien kami saudara Fredy memang benar membeli satu rumah di Jalan Antasari yang proses jual belinya dimulai dari pembayaran uang muka sebesar Rp500 juta kepada Ibu Dino,” kata Tonin dalam keteranganya di Jakarta, Minggu (14/2/2021).

Setelah itu, kata Tonin, kliennya usai mengurus Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) melakukan penebusan sertifikat yang dalam hal ini masih atas nama keponakan atau sepupu penjual.

“Fredy menebus sertifikat atas nama keponakan atau sepupunya tersebut di koperasi simpan pinjam setelah AJB (akad jual beli) di kantor PPAT di Jakarta Selatan, dan berdasarkan AJB bayar BPHTB dan PBB maka dilanjutkan balik nama ke klien kami. Dimana yang salah dan palsu? Apakah ini mafia?” tanyanya.

Setelah mengurus administrasi pertanahan, jelas Tonin, kliennya malah dilaporkan dengan tuduhan penipuan oleh keluarga penjual dan digerebek polisi secara tiba-tiba saat berada di kantor notaris.

“Oleh sepupu atau keponakan tersebut klien kami dilaporkan di SPKT Polda Metro Jakarta dan ditangani Unit 4 Subdit 2 Direskrimum yang mana baru akan dipanggil untuk klarifikasi pada hari Senin tanggal 15 Februari 2021. Jadi yang dilakukan pemberitaan di media dan talk show itu penangkapan di kantor notaris sebelum ada laporan polisi dan laporan polisi dibuka pada hari itu juga oleh keponakan atau sepupunya,” jelasnya.

Karena sebelumnya tidak pernah diperiksa terlebih dulu, ucap Tonin, kliennya merasa keberatan. Sebab tiba-tiba digerebek seolah-olah kriminal padahal ia hanya mengurus administrasi pertanahan guna melengkapi konsekuensi usai akad jual beli.

“Aneh kan polisi bisa melakukan penggrebekan di kantor notaris tanpa ada delik aduan,” pungkasnya. (Mmu)

Comments

comments