Dusun Dikosongkan, Warga Turgo Trauma Erupsi Merapi 2010

Jembatan ikonik Turgo yang sepi.(Foto : Chaidir/Acuantoday.com)

Acuantoday.com, Yogyakarta- Peristiwa erupsi besar Gunung Merapi tahun 2010 masih menjadi trauma bagi warga Dusun Turgo Desa Purwobinangun, Kapanewon (Kecamatan) Pakem Sleman. Kejadian yang membuat banyak korban manusia, hewan dan alam sekitar itu menyimpan rasa ketakutan bagi warga, sehingga erupsi Merapi pada Rabu (27/1/2021) dirasakan peristiwa besar seperti tahun 2010 silam.

Atas peristiwa erupsi Rabu kemarin, Dusun Turgo yang terkenal dengan kopi Merapi harus ditinggalkan warganya. Mereka lebih memilih mengungsi untuk mendapat perlindungan dan keamanan, dan kembali ke barak pengungsian. Dusun Turgo merupakan dusun yang dekat dengan puncak Merapi dan kini dikosongkan oleh warganya, kecuali hanya beberapa warga yang datang untuk mengecek kondisi kampungnya.

Sejak Rabu (27/1/2021) hingga Kamis (28/1/2021), Merapi masih terus mengeluarkan guguran lava dan awan panas, meski kekuatannya berubah-ubah. Sudah puluhan kali guguran awan panas keluar ke arah barat daya.

Selain warga Turgo, warga dari Kalitengah Lor Glagaharjo, Cangkringan yang sehari sebelumnya kembali ke rumah terpaksa kembali mengungsi.

Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Makwan, mengatakan untuk Kamis (28/1/2021) ini belum teramati adanya luncuran awan panas. Ia membenarkan adanya pengungsian warga di lereng Merapi akibat kenaikan aktivitas gunung tersebut. Berdasarkan Pusdalop BPBD Sleman, warga lereng Merapi mengungsi di tiga barak pengungsian.

Barak Utama Kalurahan Purwobinangun, Barak Rentan Purwobinangun dan SD Negeri Tawangharjoa jumlah warga yang mengungsi sebanyak 145 jiwa. Rinciannya, sebanyak 33 lansia, 76 dewasa, 32 anak, tiga balita, bayi dan ibu hamil. Di Barak Plosokerep Umbulharjo Cangkringan, hanya dihuni 10 jiwa yang berasal dari 1 KK. Terdiri dari 2 dewasa, lima anak dan tiga balita.

Terakhir di Barak Gedung PNPM Kalurahan Glagaharjo Cangkringan yang diisi oleh warga kelompok rentan sebanyak 41 jiwa. Terdiri dari 24 lansia, 21 dewasa, anak dan balita masing-masing dua orang.

BPBD Sleman, kata Makwan, mengerahkan armada dan sumberdaya serta relawan untuk membantu proses evakuasi. Termasuk mendirikan dapur umum untuk pemenuhan kebutuhan pengungsi.

“Untuk mencegah terjadinya penularan Covid-19 kepada pengungsi, maka petugas dan relawan di Purwobinangun diswab antigen, jam 09.00 WIB hari ini di aula Kalurahan Purwobinangun,” kata Makwan.

Makwan mengatakan pengungsian warga lereng Merapi disesuaikan dengan rekomendasi BPPTKG. Berdasar pemetaan, katanya, kawasan sisi barat Merapi jaraknya relatif jauh dari puncak. Paling dekat adalah Dusun Tunggularum, Kalurahan Wonokerto, Kapanewon Turi yang berjarak antara tujuh hingga delapan kilometer.

Sedangkan sisi selatan Merapi, dusun terdekat adalah Turgo di Kalurahan Purwobinangun Pakem, dan Ngandong Tritis Girikerto Turi. Jaraknya dengan puncak Merapi sekitar 6 km. Hingga kini, ujarnya, BPPTKG merekomendasikan prakiraan bahaya maksimal 5 kilometer dari puncak. Artinya, untuk Sleman, zona bahaya mencakup Dusun Kalitengah Lor Glagaharjo, Kepuharjo Kaliadem, dan Pelemsari Umbulharjo.

“Kami masih menunggu rekomendasi dari BPPTKG. Selama belum ada perluasan zona bahaya maksimal lima kilometer, maka BPBD Sleman masih mengikuti rekomendasi tersebut,” kata Makwan.

Meskipun begitu, katanya, jika BPPTKG merekomendasikan dilakukan evakuasi terhadap 195 KK Dusun Tunggularum, Wonokerto, Turi, maka BPBD sudah siap melakukannya. Di Wononerto saat ini terdapat empat lokasi barak yang disediakan, di kantor Kalurahan Wonokerto, gedung SD Banyuurip, SD Ngangkruk, dan pendopo objek wisata Ledok Lempong.

“Semua fasilitas kebutuhan dasar di


Sudut lain jalan utama Dusun Turgo Desa Purwobinangun, Kapanewon (Kecamatan) Pakem Sleman yang tampak sepi. Pada erupsi gunung Merapi 2010 lalu, desa tersebut menjadi desa yang terdampak parah. (Foto : Chaidir/Acuantoday.com)

barak sudah dilengkapi termasuk penyekatan bilik. Tetapi kami tidak mau tergesa-gesa mengambil kebijakan pengungsian karena warga sendiri khawatir dengan risiko penularan Covid-19 dan belum ada rekomendasi dari BPPTKG,” ujarnya. (Chaidir)

Comments

comments