DVI Fokus Pencocokan DNA untuk Kenali Korban SJ182

Petugas membawa kantong jenazah korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air PK-CLC di perairan Pulau Seribu, di Dermaga JICT, Jakarta, Senin (11/1/2021). Kantong jenazah tersebut kemudian dibawa ke RS Polri untuk diidentifikasi. (Foto : Antara)

Tak Lagi Sidik Jari, Identifikasi Korban Insiden Jatuhnya Pesawat Sriwijaya SJ182 Berfokus ke Pencocokan DNA

Acuantoday.com, Jakarta―Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri bakal memfokuskan metode identifikasi dengan pencocokan DNA terhadap jenazah korban insiden jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ182.

Komandan DVI Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri Kombes Hery Wijatmoko menuturkan, kerja identifikasi bakal menemui kesulitan kalau hanya mengandalkan metode pemindaian dari sidik jari korban. 

Hal itu mengingat tidak semua jasad korban yang ditemui dalam kondisi tangan atau jari yang utuh. 

“Pemeriksaan yang digunakan saat ini, kami lebih menitikberatkan pada pemeriksaan DNA forensik. Karena semakin lama semakin ada keterbatasan untuk pemeriksaan yang lain termasuk sidik jari,” ujar Hery dalam jumpa pers di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Selasa (19/1).

Sampel DNA dari keluarga korban yang diterima tim hingga pagi hari ini, Hery menyebutkan, ada sekira 438 sampel dari 62 korban yang berada dalam pesawat yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu itu. 

“Total sampel DNA yang kami lakukan pemeriksaan sekarang sudah mencapai 438 sampel, 293 terdiri dari sampel postmortem dan 145 dari keluarga,” tutur Hery. 

Perlu diketahui, tim bekerja dalam melakukan identifikasi mesti berpatok pada 5 fase. Fase pertama diawali dari identifikasi di TKP atau tempat kejadian perkara pesawat jatuh yang terfokus di perairan Kepulauan Seribu. 

Fase selanjutnya, yaitu fase antemortem. Dalam fase ini tim kepolisian sudah membentuk tiga pos antemortem, yakni di Bandara Supadio Pontianak, pos antemortem di Tanjung Priok yang akan dikirim langsung ke RS Polri.

Dalam fase antemortem, tim mengejar data-data fisik khas dari korban sebelum meninggal. Mulai dari data umum korban seperti nama, umur, berat badan, tinggi badan, pakaian dan aksesoris yang dikenakan korban terakhir kali, sampai dengan barang bawaan korban serta kepemilikan lainnya.

Sedangkan, identifikasi secara posmortem dilakukan terhadap jenazah atau potongan tubuh jenazah yang ditemukan. 

Data-data yang diukur dalam fase ini seperti sidik jari, golongan darah, ciri-ciri fisik korban yang spesifik, konstruksi gigi geligi, foto rontgen dan foto diri korban lengkap dengan pakaian dan aksesoris yang melekat di tubuh korban.

Fase keempat adalah fase penggabungan data antara pos antemortem dan postmortem. 

Terakhir, baru data dapat dianalisis dan dievaluasi sehingga berhasil mengidentifikasi jenazah. 

Hery menambahkan, total kantong jenazah yang diterima tim sudah sebanyak 310 kantong, yang kebanyakan berisikan potongan tubuh korban. Dari jumlah kantong jenazah tersebut, telah berhasil diidentifikasi sebanyak 34 jenazah hingga malam hari kemarin Senin (18/1). 

Proses identifikasi dimulai sejak Senin (11/1) atau dua hari pascainsiden pesawat nahas itu. Pada hari pertama identifikasi, tim berhasil mengidentifikasi jenazah atas nama Okky Bisma (30), yang berstatus pramugara pesawat nahas itu. 

Hari berikutnya secara beruntun, puluhan jenazah diidentifikasi melalui metode pencocokan DNA dan sidik jari. 

Korban atas nama Fadly Satrianto (38), kopilot Nam Air. Kemudian penumpang bernama, Khasanah (50), Asy Habul Yamin (36), Indah Halimah Putri (26), Agus Minarni (47), Ricko (32), Ihsan Adhlan Hakim (33). 

Selanjutnya, jenazah yang berhasil diidentifikasi atas nama Supianto (37), Pipit Piyono (23), Mia Tresetyani (23), yang berstatus pramugari Sriwijaya Air dan Yohanes Suherdi (37). 

Sebanyak 12 tambahan jenazah yang bisa diidentifikasi terjadi pada Jumat dan Sabtu kemarin. Pada Jumat, sebanyak lima jenazah, antara lain: Toni Ismail (59), Dinda Amelia (16), Isti Yudha Prastika (34), Putri Wahyuni, (25) dan Rahmawati (59 tahun). 

 

Kemudian, sebanyak tujuh jenazah kembali berhasil diidentifikasi, di antaranya: Makrufatul Yeti Srianingsih (30), Rosi Wahyuni (51), Rizki Wahyudi (26), Nelly (49), Beben Sopian (58), Arifin Ilyas (26) dan, Arneta Fauzia (38).

Selanjutnya pada Minggu (17/1) kemarin malam, tim mengonfirmasi lima korban yang berhasil diidentifikasi, yakni Fao Nuntius Zai, Yunni Dwi Saputri, Iuskandar, Oke Dhurrotul, dan satu korban yang identitasnya tidak disampaikan karena permintaan pihak keluarga. 

Teranyar Senin malam, Polri menngonfirmasi lima tambahan jenazah yang berhasil diidentifikasi, di antaranya: Fathima Ashalina Marhen (2) dan Athar Rizki Riawan berumur (8), Didik Gunardi (49), Gita Lestari Dewi (36), Fathima dan Rahmania Ekananda (39). (rwo)

Comments

comments