Dynamix Park, Icon Baru Pariwisata Indonesia

Kawasan Hutan Pinus hasil reklamasi lahan eks penambangan silika yang menghijaukan Dynamix Park. (foto: Renzo)

Acuantoday.com-— Dynamix Park tak pelak bakal menjadi icon pariwisata Jawa Barat yang baru. Lokasinya tidak jauh dari Ibu Kota Jakarta, persisnya di Desa Sekarwangi, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi. “Dari Jakarta, kurang lebih 2,5 jam perjalanan,” ujar Prof (Ris) Hermawan Sulistyo, pendiri sekaligus pembina Yayasan Renzo, selaku pengelola.

Taman ini berada di lahan seluas 85 hektare. Di sebelahnya, masih ada areal seluas 100 hektare lagi. Jika digabungkan, hampir 200 hektare. “Dengan dukungan para stakeholder, kami akan membangun resort sekaligus sentra produksi pangan terbesar di Indonesia,” ujar Kikiek, sapaan akrab peneliti senior LIPI yang baru saja mendapat penghargaan Satyalancana Karya Satya dari Presiden Joko Widodo.

Adapun lahas seluas itu adalah milik PT Solusi Bangun Indonesia (SBI). Beberapa waktu yang lalu, Presiden Direktur PT Solusi Bangun Indonesia, Aulia Mulki Oemar menghubungi Prof Kikiek dan menawarkan lahan eks tambang pasir silika PT SBI di Cibadak itu. Sesuai undang-undang, pasca penambangan sebuah lahan harus direklamasi atau dipulihkan. Program itu sudah dilakukan.

Prof Hermawan Sulistyo menyambut baik tawaran itu. Sebagian lahan akan disulap menjadi wisata agro berupa perkebunan tanaman pangan bekerjasama dengan Kementerian Pertanian. Sejumlah klaster tanaman sudah disiapkan. Antara lain tanaman sagu, pisang, duren, matoa, mangga meksiko, dan lain-lain.

Seperti diketahui, usai bergabung ke Semen Indonesia dua tahun lalu, Holcim berganti nama menjadi Solusi Bangun Indonesia (SBI). Produk semen Holcim pun berganti merek menjadi Dynamix. Nama Dynamix diabadikan sebagai nama resort terbesar yang bakal dibangun dan dikelola Yayasan Renzo.

Selain itu Yayasan Renzo juga akan membangun sarana outbound. Antara lain giant swing, flying fox, paintball, ATV, labyrinth, dan camping ground. “Untuk seni panggung dan berbagai event, kami akan membangun amphitheatre. Background-nya tebing-tebing, dijamin spektakuler,” kata Kikiek.

Spot-spot menarik lain adalah Café & Villa di Batu dan Danau, Peternakan, Mini Zoo, Scholar Corner, Karate Corner, dan Kids Corner. “Perlu kerja spartan untuk mewujudkannya. Selagi pandemi, kami harus berlari. Targetnya, pertengahan tahun depan Dynamix Park sudah beroperasi,” ujar Hermawan Sulistyo.

Dengan kata lain, Kikiek, panggilan akrab Hermawan Sulistyo, hendak menjadikan Dynamix Park sebagai “one stop tourism” berbasis pertanian dan penghijauan. “Luas lahan memungkinkan kita menampung semua gagasan one stop tourism berbasis pertanian dan penghijauan,” ujarnya.

Pemandangan di salah satu spot Dynamix Park. (foto Renzo)

Hermawan Sulistyo bertekad menjadikan area bekas tambang tadi agar memiliki nilai tambah secara maksimal. Bisa memberi manfaat, tidak saja bagi masyarakat sekitar, tetapi juga bagi Pemkab Sukabumi dan dunia pariwisata Indonesia. “Amanah PT SBI melalui Presdir Aulia, harus saya jawab dengan gerak cepat. Kita berkejaran dengan waktu,” ujar peneliti senior LIPI itu.

Untuk wadah kerjasama pengelolaan lahan tadi, dikedepankanlah Yayasan Renzo. “Kami sinergikan dengan Kementerian Pertanian dan stakeholder lain. Kebetulan, Yayasan Renzo dan Kementan juga bekerjasama dalam program sabuk pengaman pangan (food green belt). Jadi kami lanjutkan di Dynamix Park,” ujar Hermawan Sulistyo, patron Yayasan Renzo.

Selain menggandeng Kementerian Pertanian, Kikiek juga merintis kerjasama dengan Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup. Stake holder lain dalam proyek ini adalah Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Dojo Renzo ‘Home of the Champion’, Jayakarta News, Koperasi Karyawan Solusi Bangun Indonesia, dan Kelompok Tani Sekarwangi.

Taman Dynamix (Dynamix Park) dijadwalkan beroperasi penuh pertengahan tahun depan. Sejatinya, lokasi ini sudah setengah jadi. “Mudah-mudahan awal tahun 2021 sudah soft launching,” pungkas Hermawan Sulistyo. ***dian

 

Comments

comments