Effendi Gazali Mundur sebagai Dosen dan Kembalikan Gelar Guru Besar

Pakar Komunikasi Politik Effendi Gazali (kanan memakai kaos) bersama Refly Harun (kiri baju batik) dalam bincang-bincang di Refly Harun Yitube Channel. (Foto : Youtube)

Acuantoday.com, Jakarta- Pakar Komunikasi Politik Effendi Gazali mengundurkan diri sebagai dosen dan guru besar di Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Prof. Dr Moestopo (Beragama).

Keputusan mundur diambil setelah ia merasa gagal sebagai dosen maupun guru besar Ilmu Komunikasi yang selama ini disandangnya. Selain itu, dia juga akan menyerahkan kembali gelar guru besar bidang Ilmu Komunikasi kepada negara.

Namun, untuk kampus luar negeri, ia akan tetap mengajar. Semua pernyataan itu disampaikan Effendi Gazali melalui akun YouTube Refli Harun.

“Sekarang saya mau mengundurkan diri, baik sebagai dosen maupun guru besar di UI maupun di Universitas Prof Dr Moestopo Beragama, karena merasa gagal,” kata Effendi Gazali seperti dikutip Youtube Refli Harun Channel, Kamis (1/4/2021).

Dia menjelaskan, terdapat sejumlah alasan yang menyebabkan dirinya memilih mundur sebagai pengajar. Effendi mengaku gagal sebagai pengajar jurnalistik dan ilmu komunikasi selama 20 tahun lebih.

Sebab dia menilai belakangan ini sejumlah media kurang menaati kode etik jurnalistik ketika melakukan wawancara ataupun penulisan berita.
“Bahwa ada orang percaya BAP bisa keluar begitu saja, ada orang percaya Effendi Gazali memberi rekomendasi dan harus didengar power relation-nya apa. Tadi ada orang menggunakan kata-kata konfirmasi lalu dianggap lagi itu jebakan,” ucap dia.

“Yang dari awal tersangka mengatakan iya bahwa Effendi Gazali terlibat padahal sudah jelas dia (si tersangka) bilang enggak ada, enggak ada, framing-nya itu tidak menampik,” ujarnya.

Selama kurun 20 tahun mengajar, Effendi mengaku tidak disangka inilah hasil yang didapat dan harus ditanggungnya bersama keluarga. “20 tahun saya mengajar, ini menimpa saya, keluarga saya dan menanggungnya. Saya tidak lebay, saya tidak salah,” imbuhnya.

Kendati demikian, Effendy mengaku telah melaporkan dugaan adanya pelanggaran tersebut kepada Dewan Pers. Selain itu, Effendi juga meminta agar semua pihak tidak mengaitkan kasus yang menyeret namanya dengan tempatnya mengajar.

“Yang kedua, jangan kait-kaitan saya dengan UI dan Universitas Prof Dr Moestopo dalam hal ini. Nista ini kalau terbukti nista bagi saya,” jelas dia.

“Jangan juga dianggap juga saya lebay, saya kalah,” tambahnya.

Diperiksa KPK

Sebelumnya Effendi Gazali telah memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Effendi dipanggil penyidik KPK terkait kasus pengadaan bantuan sosial (bansos) yang telah menyeret mantan Menteri Sosial Juliari Batubara.

Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri menegaskan, penyidik dalam memanggil saksi untuk dimintai keterangan tidak asal asalan atau berdasar petunjuk bukti yang valid.

Penegasan tersebut, ucap Ali, merespon pihak-pihak yang mempertanyakan kaitan Effendi Gazali yang seorang Dosen Ilmu Komunikasi UI dengan dugaan korupsi bantuan sosial di Kementerian Sosial RI 2020.

“Penyidik memanggil yang bersangkutan sebagai saksi tentu karena ada kebutuhan penyidikan,” kata Ali dalam keterangan tertulisnya, Minggu (28/3/2021).

Effendi Gazali diperiksa, jelas Ali, karena namanya disebut dalam berkas perkara yang melibatkan mantan pejabat pembuat komitmen (PPK) di Kemensos Matheus Joko Santoso.

Menurut Ali, penyidik menduga pakar komunikasi politik Effendi Gazali menitipkan perusahaan untuk mendapatkan jatah bansos Covid-19 Jabodetabek 2020 di Kementerian Sosial.

“Ada data dan informasi yang perlu dikonfirmasi kepada yang bersangkutan terkait dengan pelaksanaan pengadaan bansos dimaksud,” ujarnya.

Penitipan itu, papar Ali, disampaikan Effendi melalui mantan pejabat pembuat komitmen (PPK) sekaligus kuasa pengguna anggaran (KPA) di Kemensos Adi Wahyono. Adi merupakan salah satu tersangka penerima suap.(har)

Comments

comments