FSGI Dukung Penyederhanaan Kurikulum 2013

Logo Federasi Serikat Guru Indonesia--foto istimewa

Acuantoday.com— Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mendukung rencana penyederhanaan kurikulum oleh Kemdikbud karena memang kurikulum sudah saatnya disederhanakan apalagi di masa pandemic Covid 19 saat ini dengan adanya kebijakan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh).

“Tidak dalam kondisi pandemic saja Kurikulum 2013 sulit dituntaskan, apalagi disaat bencana seperti saat ini,” kata Heru Purnomo, Sekretaris Jenderal FSGI, melalui pers rilis Minggu (27/9/2020).

Namun demikian ada beberapa hal yang menjadi catatan FSGI, di antaranya adalah, penyederhanaan untuk mengurangi muatan kurikulum 2013 yang selama ini sarat beban dan sulit dituntaskan.

Penyederhanaan kurikulum, ujar Heru, berfokus pada pengurangan muatan, terutama materi yang tumpang tindih antar mata pelajaran terkait, bukan menghilangkan mata pelajaran tertentu.

Terkait mata pelajaran sejarah, tambahnya, penyederhanaan dilakukan untuk penguatan muatan sejarah local dalam konteks sejarah nasional Indonesia.

“Rencana penyederhanaan kurikulum ini, menjadi momentum bagi FSGI untuk memberikan sejumlah masukan  kepada Kemdikbud. Di antaranya untuk mata pelajaran Sejarah serta Bahasa dan Sastra  Indonesia. Penguatan pendidikan kesusastraan penting, sebab, generasi muda dapat belajar budaya lewat sastra. Karena selama ini, pembelajaran sastra lemah,” tambahnya.

Sastra yang berkembang justru penguasaan teori-teori. Begitupun  kurikulum Sejarah harus memasukan aneka pengetahuan dan kearifan lokal yang telah lahir dari rahim peradaban manusia Indonesia sendiri selama berabad-abad.

Rekomendasi

Terkait penyederhanaan Kurikulum 2013, FSGI menyampaikan sejumlah rekomendasi. Di antaranya, mendorong proses pembelajaran Sejarah Indonesia diubah, tujuannya untuk membangun memori kolektif sebagai bangsa sebagai dasar pengembangan karakter siswa.

FSGI juga mendorong pendekatan pembelajaran sejarah saat ini yang lebih berorientasi pada peristiwa nasional dan yang tertulis pada buku pelajaran, diubah ke pendekatan semasa (sinkronik), sehingga peristiwa sejarah di wilayah lokal yang semasa dengan peristiwa sejarah Indonesia dipelajari sebagai suatu keterkaitan mata rantai peristiwa sejarah.

Pembelajaran sejarah Indonesia harus menyadarkan siswa bahwa sejarah masih hidup pada masa kini dan menjadi living history yang mungkin tidak disadari.

Untuk itu, pembelajaran sejarah Indonesia harus mampu meyakinkan siswa bahwa belajar sejarah Indonesia bukan belajar sesuatu yang sudah mati, melainkan sesuatu yang terus-menerus berkelanjutan dalam kehidupan mereka masa kini, masa depan, dan akan terus hidup pada generasi muda yang akan datang.

Peserta didik yang merupakan generasi penerus bangsa harus menjadi pengembang kehidupan kebangsaan yang tetap sebagai orang Indonesia dan mewariskan kehidupan kebangsaan kepada generasi muda yang juga tetap Indonesia.

Kepada Kemdikbud, FSGI mengusulkan sejarah kejayaan maritim bangsa Indonesia. Sebagai Negara kepulauan, Indonesia memiliki keunggulan bahari yang dapat diwariskan sehingga dapat menjadikan Indonesia sebagai pusat maritim dunia didasarkan pada warisan kehidupan maritim, yang pernah jaya pada masa lalu, masih meninggalkan berbagai keunggulan dan semangat pada masa kini.

Sejarah memberikan banyak landasan kehidupan bangsa maritim yang masih hidup di masyarakat masa kini, yang harus digali kembali dari yang sudah hilang, dan untuk dikembangkan menjadi warna kehidupan bahari masa kini dan masa yang akan datang.

FSGI juga mendorong Kemdikbud  melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan dapat meninisiasi secara terus menerus  berbagai penelitian dan penulisan sejarah local di berbagai daerah di Indonesia agar dapat menjadi sumber pembelajaran Sejarah di sekolah.

Selain itu, FSGI mendorong Kemdikbud  menempatkan Bahasa dan sastra Indonesia   berorientasi  sebagai media untuk memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, identitas, kebahasaan, jati diri bangsa, dan aspek-aspek lain yang terkait dengan kecerdasan linguistik seorang siswa.

Sebab, arah pelajaran Bahasa Indonesia dalam Kurikulum 2013 cenderung  menempatkan bahasa Indonesia hanya dijadikan alat untuk menyampaikan materi pelajaran ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial serta pelajaran lain.

FSGI mendorong Kemdibud melakukan penguatan pendidikan kesusastraan dalam kurikulum mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Sastra Indonesia. Sebab, generasi muda dapat belajar budaya lewat sastra. Namun, pembelajaran soal sastra ini lemah. Regenerasi juga tidak berjalan baik. Sastra yang berkembang justru penguasaan teori-teori. Muatan materi tentang tata bahasa dan kesusastraan justru cenderung diabaikan selama ini. ***dian

Comments

comments