FSGI Ungkap Berbagai Permasalahan Kurikulum Sejarah

Retno Listyarti, Dewan Pakar FSGI

Acuantoday.com— Pembahasan terkait rencana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menempatkan mata pelajaran sejarah sebagai mata pelajaran pilihan di SMA bahkan menghilangkannya di SMK, terus bergulir. Banyak pihak tidak setuju karena menganggap sejarah merupakan matan pelajaran penting yang wajib diajarkan kepada siswa.

Permasalahan kurikulum sejarah juga mengemuka dalam konferensi pers yang digelar Federasi Serikat Guru Seluruh Indonesia secara virtual, Minggu (27/9/2020). Sebagai narasumber; Fahriza Marta Tanjung (Wakil Sekjen); Fahmi Hatib (Presidium) dan Retno Listyarti (Dewan Pakar).

Beberapa hal yang mengemuka terkait permasalahan mata pelajaran sejarah adalah, selama ini  dalam pembelajaran sejarah Indonesia, peserta didik tercerabut dari lingkungan sosial- budaya mereka. Siswa belajar tentang berbagai peristiwa sejarah yang dinyatakan sebagai peristiwa sejarah Indonesia, sebagaimana yang tercantum dalam Kompetensi Dasar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dan Sejarah Indonesia.

“Peserta didik lebih banyak belajar peristiwa sejarah di luar lokal di mana mereka bertempat tinggal. Siswa yang belajar sejarah maritim tidak mengenal lokalnya sebagai wilayah maritim, terkecuali mereka yang tinggal di wilayah kerajaan maritim besar Indonesia dan tercantum dalam buku teks pelajaran sejarah,”ujar Retno Listyarti, Dewan Pakar FSGI.

Sehingga, ujar Retno, peserta kurang atau bahkan tidak mengenal masyarakatnya dan perkembangan masyarakatnya pada masa lalu, nilai-nilai yang diwariskan, dan kontribusi masyarakatnya dalam perjalanan sejarah bangsa. Seolah-olah masyarakat sekitarnya tidak terlibat dalam peristiwa sejarah Indonesia. Karena peristiwa yang dipelajari peserta didik adalah peristiwa yang jauh dari mereka, baik dalam unsur ruang (local) maupun dalam unsur waktu.

Selain itu, banyak peserta didik di sejumlah wilayah Indonesia tidak mengenal peninggalan zaman pra-aksara di lokalnya ketika mereka belajar pra-aksara Indonesia. Mereka tidak mengenal peninggalan- peninggalan Hindu dan atau Buddha di wilayahnya ketika mereka sedang mempelajari zaman kerajaan Hindu-Buddha Indonesia.

Demikian pula ketika mereka belajar zaman kerajaan Islam di Indonesia, mereka tidak memahami kerajaan Islam yang ada di wilayahnya. Ketika mereka belajar masa pergerakan sampai dengan peristiwa terakhir (masa reformasi), mereka tidak tahu peristiwa yang terjadi di wilayahnya.

Pengecualian dari kenyataan di atas adalah ketika peristiwa di lokal siswa itu, yang merupakan peristiwa sejarah Indonesia, tercantum dalam kurikulum dan dalam buku teks.

“Misalnya, pada waktu belajar periode Kebangkitan Nasional, peserta didik mempelajari berbagai peristiwa yang terjadi di wilayahnya yang semasa dengan Kebangkitan Nasional. Ketika mereka belajar tentang perang kemerdekaan tahun 1945-1950, mereka juga belajar peristiwa di daerah masing-masing dalam mempertahankan kemerdekaan,” ujar Retno.

Peserta didik  di Kecamatan Parigi, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, misalnya, dapat mempelajari perlawanan Balla Bunga yang terjadi pada masa tersebut. Peserta didik di Bandung, Jawa Barat, dapat memiliki kesempatan belajar perjuangan Sersan Badjuri, Sersan Sodik, dan lainnya di Bandung Utara. Ketika peserta didik di Papua mempelajari ”Perjuangan Papua Kembali ke Republik Indonesia”, mereka pun belajar tentang tokoh sejarah Papua yang tangguh memperjuangkan aspirasi untuk kembali ke Republik Indonesia.

Dengan memahami kontribusi nenek moyangnya dalam berbagai peristiwa sejarah Indonesia, akan menimbulkan perasaan kedekatan yang positif sebagai ahli waris kehidupan bangsa.

Peserta didik akan memiliki rasa kepemilikan bangsa yang kuat karena adanya bangsa ini adalah hasil dari kontribusi orang-orang di wilayah mereka dan banyak di antaranya nenek- kakek mereka sendiri. Pada waktu bersamaan, pemahaman yang kuat mengenai nilai-nilai kepahlawanan, keteladanan, dan kepemimpinan merupakan tantangan untuk melanjutkan warisan nilai-nilai tersebut.

“Problemnya adalah sumber-sumber pembelajaran sejarah local masih terbatas,” ungkap Fahmi Hatib, Presidium FSGI.

Indonesia adalah salah satu negara pemilik naskah kuno terbesar di dunia, dengan tak kurang 20 ragam bahasa lokal yang dipakai untuk menulisnya. Naskah kuno jadi sumber primer yang mengandung sejarah kehidupan masyarakat Nusantara serta banyak menjelaskan alasan mengapa kemudian terbentuk negara modern bernama Indonesia.

Naskah-naskah masterpiece Indonesia semisal Serat Centini, Serat Cebolek, Negarakertagama, Babad Diponegoro, I La Galigo, naskah obat-obat tradisional, naskah takwil gempa, dan ribuan lainnya begitu dibanggakan dunia, tapi tak pernah secara sistematis diperkenalkan dalam kurikulum sejarah untuk anak-anak kita.

“Naskah yang layak masuk kurikulum sejarah, misalnya, Naskah Bo’ Sangaji Kai di Bima, Nusa Tenggara Barat, sebagai contoh, jadi salah satu sumber terpenting sejarah petaka meletusnya Gunung Tambora pada 11 April 1815 yang menyebabkan sejarah kelam Eropa tanpa musim panas setahun kemudian,” ucap Fahmi Hatib yang merupakan guru di SMAN 1 Monta, Kabupaten Bima.

Fahmi menambahkan, “Khusus terkait sejarah Islam Nusantara, naskah-naskah kuno kita diyakini oleh Anthony Johns sebagai sumber primer untuk memahami karakter Islam kita yang ramah, santun, dan toleran”.

Di bagian lain juga diungkap bahwa sejarah Indonesia hanya dianggap sebagai peristiwa yang sudah selesai pada masa lalu. Belajar sejarah dianggap sebagai belajar sesuatu yang sudah lalu, yang bagus untuk dikenang dan dipajang di museum atau disimpan di dalam arsip.

Dalam anggapan ini, masa sekarang dipandang tidak terkait dengan masa lalu, apalagi masa lalu yang sangat jauh seperti masa pra-aksara, masa kerajaan Hindu, masa kerajaan Buddha, masa kerajaan Islam. Padahal, kehidupan masa kini adalah kelanjutan dari kehidupan masa lalu. Kehidupan masa kini tidak mungkin ada tanpa masa lalu.

Memang ada aspek kehidupan masa lalu sudah tidak berlanjut pada masa kini, tetapi banyak aspek kehidupan masa kini merupakan kelanjutan dari masa lalu. Seperti cara hidup, cara berpikir, pakaian dan cara berpakaian, makanan dan cara makan, upacara perkawinan, upacara kematian, kesenian, rumah, upacara adat, agama dan kepercayaan yang dianut, serta masih banyak aspek lainnya.

“Padahal, kemajemukan masyarakat Indonesia dalam budaya, sosial, agama, adat, ekonomi adalah warisan yang masih berlanjut dari kehidupan masa lalu bangsa”, ujar Retno. ***dian

Comments

comments