Hasto, Tak Pernah Merasa Mapan dalam Status Quo

Sekretaris Jenderal (Sekjend) Partai PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto./Foto: Istimewa

KETIKA banyak kader ingin masuk ke parlemen atau menjadi menteri, tidak begitu dengan Hasto Kristiyanto. Sekretaris Jenderal (Sekjend) Partai PDI Perjuangan itu memilih berada di dalam, membangun organisasi.

“Membangun organisasi jauh lebih penting,” tandas Hasto dalam diskusi virtual, Jumat (9/10) malam.

Tidak mudah bagi Hasto untuk memilih. Hidup baginya seperti air, mengalir saja.

“Kalau capek ya tidur, kalau liburan ya liburan,” kata Hasto.

Tapi yang jelas, ia merasa apa yang dilakukannya terhadap PDIP masih jauh dibandingkan dengan Bung Karno ataupun Megawati Soekarnoputri. Dalam riwayat kerja mereka, sebut Hasto, bekerja buat organisasi tanpa mengenal kata menyerah.

“Dengan semangat, kadang-kadang saya rasa apa yang saya lakukan tidak ada artinya dengan yang dilakukan Bung Karno, Bu Mega yang dulu keliling Indonesia,” ucap dia.

Atas dasar itu, Hasto mengakui dirinya tidak pernah merasa mapan dalam status quo. Olehnya itu, belajar menerapkan ilmu pengetahun dan teknologi menjadi satu alasan kemajuan bagi bangsa ini.

Mengutip falsafah Marhaen, alat perjuangannya adalah cangkul, dan kini handpone menjadi alat perjuangan generasi saat ini.

“Tadi saya sampaikan pengalaman, perjuangan, jadi saya tidak pernah merasa mapan status quo, sehingga hidup ini terus proses belajar menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi,” paparnya.

Ia lalu mengajak untuk melihat Amerika, Eropa barat yang selalu maju karena menguasai ilmu dasar dan tekonologi, matematika, fisika dan kimia.

“Maka kita harus kuasai itu,” tutup Hasto. (rht)

Comments

comments