Hati-hati, PTM Bisa Picu Munculnya Klaster Sekolah

Ilustrasi-- Uji coba pembelajaran tatap muka-- foto KPAI

SEKOLAH-sekolah diberbagai daerah sudah mulai menggelar Pembelajaran Tatap Muka (PTM) meski secara terbatas. Belum semua sekolah, memang. Karena untuk bisa menggelar PTM harus memenuhi sejumlah syarat di antaranya guru yang telah divaksinasi dan memenuhi daftar periksa Prokes (Protokol Kesehatan).

Jakarta sendiri rencananya baru akan memulai uji coba PTM pada 7  hingga 29 April mendatang hanya untuk 100 sekolah. Setelah itu akan dievaluasi.

Tidak semua setuju dengan kebijakan gelar PTM. Meskipun berdasarkan data Kementerian Kesehatan jumlah kasus aktif terus mengalami penurunan. Meskipun juga, program vaksinasi terhadap tenaga pendidik terus digencarkan. Tapi, kata mereka, belum saatnya PTM digelar karena angka penularan Covid 19 masih tinggi. Dan itu sangat riskan bagi para siswa.

Coba lihat saja kasus-kasus yang terjadi baru-baru ini. Sejumlah sekolah terpaksa ditutup kembali lantaran terjadi penularan Covid di sekolah tersebut. SMAN 1 Sumatera Barat misalnya, terdapat 58 siswa terkonfirmasi Covid setelah mengikuti PTM. Kasus yang sama juga terjadi di  SMAN di Jambi dimana 56 siswa dan guru di sekolah tersebut terpaksa tutup karena terkonfirmasi Covid 19.

Kasus lainnya terjadi di Batam, tiga sekolah terpaksa tutup kembali karena ada siswa yang terkonfirmasi Covid 19. Di Bandung juga mengalami hal sama. SMA Terpadu Krida Nusantara ditutup kembali karena siswanya terpapar Covid 19. Belakangan diketahui sekolah ini membuka sekolah tanpa izin.

Beberapa kejadian di atas hanyalah sebagian contoh tentang betapa—masih— mengkhawatirkannya menyelenggarakan pembelajaran tatap muka di saat sekarang ini.

Berdasarkan data dari dokter spesialis anak Rumah Sakit Yarsi, dr. Elsye Souvrianti, jumlah kasus positif Covid-19 pada anak per 24 Maret 2021 tercatat sebesar 12,1 persen dari total kasus nasional. Dari jumlah itu, 2,8 persen adalah anak kelompok usia 0-5 tahun dan 9,3 persen berusia 6-18 tahun.

Tidak hanya itu. Menurut data dr Elsye,  kasus kematian karena Covid-19 terhadap anak usia 0-5 tahun dan 6-18 tahun mencapai 0,6 persen.

Berdasarkan data ini dr. Elsye menyarankan agar anak-anak lebih baik tetap berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar rumah karena ancaman Covid-19 terhadap anak-anak masih tinggi.

Menanggapi data tersebut, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bidang Pendidikan, Retno Listyarti meminta Pemerintah lewat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meninjau kembali kebijakan membuka sekolah atau pembelajaran tatap muka karena tren positif Covid-19 terhadap anak-anak masih tinggi.

“KPAI juga sudah mengatakan kalau mau membuka sekolah– kami sudah rapat kok dengan Gubernur DKI,  juga rapat dengan Kemendikbud— harus diperhitungkan kasus di wilayah itu,” kata Retno kepada Acuantoday.com.

Comments

comments