Hidup Sehat Gizi Seimbang, Bagaimana Caranya?

Ilustrasi---sumber gambar alimentarium.org

Acuantoday.com—Banyak orang tahu mana makanan bergizi mana yang tidak. Namun kebanyakan orang justru suka makanan yang tidak bergizi. Mereka tahu bahwa mengkonsumsi gorengan itu sebenarnya tidak baik tapi tetap saja gorengan dijadikan camilan.

Orang tahu kalau panganan manis tidak baik jika dikonsumsi terus menerus, tapi tetap saja beli minuman manis setiap hari. Tahu bahwa penggunaan garam itu tidak baik tapi tetap saja mengkonsumsi jajanan ringan.

Kondisi inilah yang terjadi di sebagian masyarakat kita saat ini. Mereka tahu tapi tidak peduli. Apalagi di tengah maraknya kuliner kekinian yang memanjakan lidah.

“Yang dari gambarnya saja,   sudah membuat kita membayangkan rasanya yang enak. Tampilan makanan yang tak bergizi kerap kali menggiurkan. Rasanya pun enak. Harganya relatif ‘ramah kantong’ alias murah. Dan mengenyangkan. Kita melupakan zat gizi apa yang ada di dalamnya dan tidak menghiraukan kalorinya,” ujarnya Listhia H Rahman, Master of Public Health dari Universitas Gadjah Mada.

Makanan-makanan tersebut, ujarnya, kebanyakan rendah gizi, tinggi gula, garam, lemak yang walhasil menjadi tinggi energi pula. Jika makanan-makanan tersebut terus dikonsumsi maka tak heran jika berat badan menjadi bertambah. Sebab energi yang masuk sudah melebih dari kebutuhan sehari-hari.

Kementerian Kesehatan, lanjutnya, telah memberikan solusi agar kita dapat menerapkan pola makan sehat dengan pedoman gizi seimbang yang tidak hanya melihat dari makanan saja tetapi juga aktivitas fisik, pola hidup bersih dan pantau berat badan.

“Dalam hal makan misalnya, ada aturan sajian makan dalam sekali makan yang mudah diingat namanya, ‘Isi Piringku’. Bayangkan  saja sebuah piring, lalu bagi dua. Setengah piring tersebut 2/3 diisi oleh makanan pokok dan 1/3 diisii lauk pauk (protein). Sedangkan sisa setengah piring yang lain  isi 2/3 dengan sayuran dan 1/3 untuk buah-buahan,” jelasnya.

Menjawab pertanyaan tentang kelebihan gizi bisa menyebabkan keracunan, Listhia mengatakan, apapun yang berlebihan adalah tidak baik. Itu juga berlaku pada zat gizi. Contohnya, kebiasaan masyarakat Indonesia yang menjadikan beras menjadi bahan makanan pokok. Kebiasaan tersebut, ucapnya, membuat kita berpeluang untuk mengkonsumsi karbohidrat berlebihan. “Misalnya,  makan mie dengan nasi,” ujarnya. Padahal mie dan nasi sama-sama sumber karbohidrat.

Karbohidrat yang berlebihan dalam tubuh, ucapnya,  akan disimpan menjadi lemak. Karbohidrat sederhana seperti nasi, mie, gula pasir lebih cepat diserap tubuh.  “Jadi jangan pikir bahwa lemak saja yang menjadi lemak dalam tubuh. Karbohidrat yang terlalu banyak kita konsumsi pun  akan diolah menjadi glukosa. Glukosa ini apabila terlalu banyak akan diubah menjadi  simpanan lemak (trigliserida)  yang jika tidak digunakan akan menjadi cadangan lemak tubuh,” jelasnya.

Hal ini, lanjutnya lagi, yang kemudian dapat mempengaruhi kadar lemak dalam tubuh. Jika terus dibiarkan menumpuk akan berdampak pada kesehatan seperti menyebabkan penyakit degeneratif seperti jantung, diabetes melitus, dll.***dian

Comments

comments