Berkaca Pemilu 2019, LIPI Sarankan Pemilu dan Pilkada Jangna “Diborong” di 2024

Staf KPU Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu menyiapkan logistik Pilkada Serentak 2020 di wilayah itu sebelum didistribusikan ke masing-masing TPS, Sabtu (5-12-2020). ANTARA/Nur Muhamad

Acuantoday.com, London―Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyarankan Pemilihan Umum dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tak seharusnya disatukan pada tahun 2024.

Hal ini berkaca pada rentetan kejadian negatif pada Pemilu 2019 lalu.

“Mengapa? Selain hal itu tidak realistis, juga terkesan trial and error yang tak mempertimbangkan dampak-dampak negatif Pemilu Serentak 2019 dan pilkada serentak yang digelar sejak 2015,” kata Prof. Siti Zuhro dalam keterangannya, Minggu (7/2).

Prof. Zuhro mengatakan Pemilu borongan ini juga bertentangan dengan mindset dan culture set new normal yang mensyaratkan desain pemilu/pilkada yang rasional, berkualitas dan berdampak positif terhadap  governance  sehingga tidak menimbulkan bad governance atau divided government.

“Mendesain Pemilu dan Pilkada perlu mempertimbangkan filosofi, teks, dan konteks Indonesia,” ucapnya.

Zuhro menegaskan, Pemilu/Pilkada tidak boleh sekadar mengedepankan keserentakannya saja, tetapi juga kualitasnya. 

Asumsi-asumsi positif dalam Pemilu Serentak 2019 dan alasan efisiensi, misalnya, menurut dia, tidak terbukti. 

Ia menekankan, uji coba desain pemilu/pilkada tak hanya tidak menguntungkan, tetapi membuat Indonesia merugi karena roadmap yang terbangun acak dan tidak terukur.

Selain itu, dilihat dari beberapa aspek lainnya, tampaknya tak juga menjanjikan seperti governance, partisipasi masyarakat (kualitas pemilih dalam memilih), kompetisi dan kontestasi (adil, setara), profesionalitas/kapasitas penyelenggara dalam menyelenggarakan pemilu/pilkada, dan kualitas pemilu/pilkada.

Oleh karena itu, dia merekomendasikan pemilu borongan pada tahun 2024 harus dihindari, kemudian pihaknya mengusulkan pemilu presiden didahulukan sebelum pemilu anggota legislatif dengan parliamentary threshold (PT) pilpres nol persen.

“Kalaupun diterapkan, kecil saja. Pasangan calon (paslon) diajukan oleh parpol yang ada di DPR,” jelasnya.

Menyinggung soal Pilkada serentak, Zuhro mengatakan bahwa pelaksanaan sesuai dengan jadwal, yaitu pada tahun 2022 sebanyak 101 daerah. 

Pilkada 2023 sebanyak 170 daerah, lanjut dia, bisa dipertimbangkan untuk disatukan pada Pilkada Serentak 2022 sehingga jumlahnya menjadi 271 daerah.

Di sisi lain, Zuhro juga memandang perlu ada jeda menjelang Pemilu anggota legislatif dan Pilpres 2024 agar semua proses tahapan lebih rapi disiapkan sampai terjadinya pencoblosan dan pengumuman hasilnya.

“Oleh karena itu, pada tahun 2023 tak perlu ada pilkada serentak. Artinya, fokus dan energi pemangku kepentingan terkait dengan Pemilu lebih pada persiapan Pileg dan Pilpres 2024,” pungkasnya. (rht)

Comments

comments