Indef Rekomendasikan 3GO untuk Dongkrak Inklusi Keuangan

Gedung Otoritas Jasa Keuangan Jakarta./Foto: Istimewa

Acuantoday.com, Jakarta―Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto merekomendasikan tiga strategi yang dapat dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar inklusi keuangan berkontribusi dan berdampak positif terhadap perekonomian domestik.

“Apa yang harus dilakukan ke depan? Ada tiga Go,” kata Eko dalam pernyataannya, kamis (3/12).

Pertama, Go Digital. Memanfaatkan seoptimal mungkin perkembangan digital agar inklusi ke depan lebih cepat. 

Tanda-tandanya, kata dia, sudah kelihatan dari berbagai macam statistik di sektor keuangan di mana kelihatan bahwa seiring digitalisasi baik dalam sistem pembayaran dan lainnya, membuat inklusi keuangan semakin cepat. 

Kedua, Go Rural. Inklusi keuangan juga harus merata ke daerah-daerah dan tidak hanya berpusat di kota-kota besar saja.

“Jangan hanya di kota-kota tadi, Jakarta atau kota-kota yang berbasis minyak itu cepat inklusinya, tapi kita juga menyasar ke daerah-daerah yang mungkin basisnya lebih ke pertanian dan berbagai macam sektor yang membutuhkan sentuhan kebijakan yang lebih banyak,” kata Eko.

Ketiga, Go Sectoral atau tidak timpang antarsektor. ika sebagian besar kredit hanya mengalir ke industri dan perdagangan, ketika pandemi seperti saat ini pertumbuhan kredit industri perbankannya tertekan.

Menurut Eko, seandainya diversifikasi kredit bisa mengalir ke hampir semua sektor secara proprosional, dampak dari pandemi terhadap sektor perbankan tidak akan sebesar saat ini.

“Kalau ketiga strategi ini kita dorong, jadi tidak hanya output bahwa inklusi keuangan meningkat tapi juga harus ke impact itu berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi,” katanya.

Berdasarkan hasil survei OJK pada 2019, indeks literasi keuangan dan indeks inklusi keuangan mengalami kenaikan dibandingkan hasil survei pada 2016. 

Indeks literasi keuangan dan indeks inklusi keuangan masing-masing mencapai 38,03 persen dan 76,19 persen, meningkat dibandingkan 2016 yang mencapai 29,7 persen dan 67,8 persen.

Eko menuturkan literasi dan inklusi antarsektor jasa keuangan saat ini masih timpang. Untuk literasi keuangan, sebagian besar masih didominasi perbankan sebesar 36,12 persen, sedangkan untuk pasar modal hanya 4,92 persen. 

Begitu pula dari sisi inklusi keuangannya, untuk perbankan mencapai 73,88 persen sedangkan pasar modal hanya 1,55 persen. (ahm)

Comments

comments