Ini Modus Provokasi KAMI yang Diduga Memicu Demo Rusuh

Kadiv Humas Polri Irjen Pol Raden Prabowo Argo Yuwono. ./Foto: Antara

Acuantoday.com, Jakarta- Polri mengungkap modus provokasi yang dilakukan para petinggi dan anggota Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) yang diduga menjadi penyebab kerusuhan demo menolak Omnibus Law Undang-undang Cipta Kerja.

Pada acara jumpa pers di Bareskrim Polri, Senin (19/10), Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Argo Yuwono mengatakan kesembilan tersangka petinggi dan anggota KAMI ditangkap karena diduga menebar narasi kebencian melalui media sosial, baik di Twitter, WhatsApp, Facebook hingga YouTube.

Modusnya dilakukan secara bergantian menebar narasi kebencian dengan ragam konteks di media sosial tersebut. Misalnya di WA, tersangka KH yang merupakan anggota KAMI Medan berperan sebagai admin grup WA KAMI setempat.

Argo menjelaskan KH menulis seraya melampirkan foto gedung DPR RI dengan narasi ‘Dijamin komplit kantor sarang maling dan setan’. Selain itu, KH diduga menulis imbauan untuk melempari gedung DPR RI dan melempari polisi dan diselingi kalimat ‘Kalian jangan takut dan jangan mundur’ dalam grup WA tersebut.

“Itu ada di WA Group, ada gambarnya kami jadikan barang bukti kita ajukan ke penuntut umum,” kata Argo.

Tersangka JG, lanjut Argo, menulis imbauan dalam grup WA KAMI Medan, agar aksi demo berjalan rusuh seperti kondisi 1998 ‘Batu kena satu orang, bom molotov membakar 10 orang dan bensin berjajaran.’

“Kemudian menulis yang mengarahkan penjarahan toko China dan rumah-rumahnya, kemudian preman diikutkan untuk menjarah,” ujar Nana.

Tersangka ketiga inisial NZ, kata Argo, disebut menuliskan ‘Medan cocoknya didaratin’. Yakin pemerntah sendiri bakal perang sendiri sama china.

Berikutnya tersangka keempat berinisial WRP, dikatakan Argo mengarahkan untuk wajib membawa bom molotov dalam aksi pada pesan di grup WA.

Argo menambahkan, ujaran penghasutan dan kebencian juga dilakukan oleh KAMI Jakarta. Ada 5 tersangka yang ditahan.

Pertama berinsial JH. Ia diduga menghasut via Twitter dalam akun pribadinya dengan mencuit ‘UU Ciptaker memang untuk primitif, investor dari RRT, dan pengusaha rakus.’

Selanjutnya tersangka keenam, yaitu DW. Ia diduga menulis bermuatan penghasutan dalam empat akun Twitternya yang memiliki total ribuan pengikut. ‘Bohong kalau urusan omnibus law bukan urusan istana tapi kesepakatan.’

Tersangka ketujuh berinisial AP, yang diduga menulis ujaran kebencian dengan tendensi menyudutkan salah satu etnis dan institusi pemerintah dalam akun Facebook dan YouTube. Seperti menulis ‘Multifungsi Polri melebihi dwifungsi ABRI.’ Kemudian ‘NKRI jadi Negara Kepolisian Republik Indonesia.

Tak hanya itu, ia menulis ‘Disahkan UU Ciptaker bukti negara telah dijajah. Dan juga negara tak kuasa lindungi rakyatnya, negara dikuasai cukong, VOC gaya baru.’

Tersangka kedelapan yang berhasil diciduk berinisial SN. Ia dalam akun Twitternya menulis ‘Menolak Omnibus Law, mendukung demonstrasi buruh, bela sungkawa demo buruh.’ Cuitannya kemudian ditambah foto yang dianggap polisi hanya memperkeruh emosi massa karena tidak sesuai dengan fakta.

Terakhir, yakni tersangka KA, disebutkan Argo diciduk karena menulis narasi bohong soal substansi pasal demi pasal UU Ciptaker. “Dia nulisnya 13 butir Ciptaker, semua bertentangan. Ya intinya dia menyiarkan berita bohong di FB, motifnya menolak,” ujarnya.

Kesembilan tersangka, ditegaskan Argo disangkakan pasal pelanggaran UU ITE berdasar barang bukti yang berhasil ditemukan. Mulai dari rekaman percakapan, status di media sosial hingga barang bukti fisik berupa bom molotov untuk membikin rusuh demo.(rwo)

Comments

comments