Investigasi Komnas HAM: Penembakan Laskar FPI oleh Polisi Melanggar HAM

Ilustrasi - Mobil ambulans membawa jenazah pengikut pimpinan FPI Rizieq Shihab meninggalkan RS Polri Kramat Jati di Jakarta, Selasa (8-12-2020). Jenazah pengikut Rizieq Shihab yang diduga baku tembak di Jalan Tol Jakarta-Cikampek pada hari Senin (7/12) telah selesai diautopsi, kemudian diserahkan kepada pihak keluarga untuk dibawa ke rumah duka./Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso

Acuantoday.com, Jakarta- Komnas HAM menyatakan aksi penembakan hingga tewas yang dilakukan anggota kepolisian terhadap anggota Laskar Front Pembela Islam (FPI) dalam bentrok di ruas Tol Jakarta-Cikampek pada medio awal Desember 2020, adalah pelanggaran HAM.

Pernyataan diungkapkan Komnas HAM setelah rampung melakukan investigasi berminggu-minggu. Pelanggaran HAM yang dimaksud dilakukan oleh polisi adalah penembakan terhadap 4 Laskar FPI yang berada di dalam mobil polisi, usai dibekuk pascabentrok.

“Terhadap empat orang masih hidup dalam penguasaan petugas resmi negara, yang kemudian juga ditemukan tewas, maka peristiwa tersebut merupakan bentuk dari Peristiwa Pelanggaran HAM,” kata Komisioner Komnas HAM M Choirul Anam dalam jumpa pers di Gedung Komnas HAM, Jumat (8/1).

Choirul menyebut aksi tembak oleh polisi merupakan tindakan yang melanggar hukum karena penembakan bukan didasari untuk melumpuhkan, tapi menghilangkan nyawa, tanpa alasan yang sah.

“Penembakan sekaligus terhadap empat orang dalam satu waktu tanpa ada upaya lain yang dilakukan untuk menghindari semakin banyaknya jatuh korban jiwa mengindikasikan adanya unlawfull killing terhadap ke 4 anggota Laskar FPI,” tegas Anam.

Atas pelanggaran HAM yang dilakukan polisi, Anam menginginkan adanya upaya penegakan hukum seadil-adilnya.

“Peristiwa tewasnya 4 (empat) orang Laskar FPI merupakan kategori dari pelanggaran HAM. Oleh karenanya, Komnas HAM merekomendasikan kasus ini harus dilanjutkan ke penegakan hukum dengan mekanisme pengadilan Pidana guna mendapatkan kebenaran materiil lebih lengkap dan menegakkan keadilan,” imbuhnya.

Penegakan hukum, ujar Anam, mesti berjalan secara akuntabel, objektif dan transparan sesuai dengan standar Hak Asasi Manusia.

Mereka yang mesti diadili adalah polisi-polisi yang berada di dalam dua mobil polisi yang melakukan aksi tembak. Satu mobil yang berisikan polisi dan 4 anggota Laskar FPI yang tewas ditembak di dalam. Sementara, satu mobil lagi, polisi yang terlibat dalam penembakan dua anggota lain Laskar FPI yang tewas ditembak.

Untuk dua laskar yang ditembak mati tersebut, Anam menekankan, kejadian bermula dari aksi saling serempet antar mobil dan saling serang antara petugas dan laskar FPI, yang terjadi di sepanjang Jalan Internasional Karawang Barat sampai diduga mencapai KM 49 Tol Cikampek.

Bentrok di antara mereka saat itu diduga hingga saling jual beli tembakan. Kendati begitu, Komnas HAM menginginkan pengusutan lebih lanjut kepemilikan senjata api yang diduga digunakan oleh Laskar FPI.

Komnas HAM pada kesimpulan bahwa sebelum adanya insiden berdarah ini, pihak Polda Metro Jaya memang tengah melakukan pembuntutan terhadap Rizieq Shihab dalam kaitan kasus pelanggaran protokol kesehatan yang menjerat Rizieq. Namun, pembuntutan ini disebut Komnas HAM sebagai “Pengintaian dan pembuntutan di luar tugas kepolisian.” (rwo)

Comments

comments